Si Entong

Sunday, December 30, 2007

KEBIJAKAN PEMERINTAH TENTANG PELAYANAN PENDIDIKAN BAGI ANAK CERDAS ISTIMEWA




KEBIJAKAN PEMERINTAH
TENTANG PELAYANAN PENDIDIKAN
BAGI ANAK CERDAS ISTIMEWA






Oleh: Ekodjatmiko Sukarso
Direktur Pembinaan SLB





DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
DITJEN MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH LUAR BIASA KEBIJAKAN PEMERINTAH
TENTANG PELAYANAN PENDIDIKAN
BAGI ANAK CERDAS ISTIMEWA
Oleh. Ekodjatmiko Sukarso
(Direktur Pembinaan SLB)

Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan tentang perlunya memberikan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi dan kecerdasan istimewa. Hal ini dilakukan agar potensi yang ada pada peserta didik dapat berkembang secara optimal dan pada gilirannya memberikan mereka dapat tumbuh menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif dan mandiri,
Upaya pemerintah untuk memberikan pelayanan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa telah dilakukan sejak tahun 1974 Pemberian beasiswa bagi peserta didik Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang berbakat dan berprestasi tinggi tetapi lemah kemampuan ekonomi keluarganya. Sementara itu pelayanan dalam bentuk percepatan belajar/akselerasi telah dirintis pada tahun 1998 dengan melakukan ujicoba pelayanan pendidikan bagi anak berpotensi kecerdasan dan bakat istimewa dalam pada 2 sekolah swasta di DKI Jakarta dan satu sekolah swasta di Jawa Barat yang mendapat arahan dari Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah.
Sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan, kebijakan pemerintah mengenai pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi dan/atau bakat istimewa terus mengalami penyempurnaan. Hal tersebut dilakukan agar pelayanan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan mengarah pada berkembangnya potensi mereka. Pemikiran di atas ditunjang dari hasil penelitian tentang program percepatan belajar terhadap 20 SMA Unggulan di 16 propinsi di Indonesia yang menyimpulkan bahwa program ini dianggap tidak cukup memberikan dampak positif pada peserta didik berbakat untuk mengembangkan potensi intelektual yang tinggi. Salah satu faktor penyebabnya adalah data yang menunjukkan 25,3% peserta didik SMA Unggulan hanya mempunyai kecerdasan umum yang berfungsi pada taraf di bawah rata-rata dan hanya 9,7% yang tergolong anak memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa (Hawadi, dkk., 1998).
Temuan tersebut tentu saja sangat memprihatinkan karena dengan kemampuan intelektual yang terbatas, peserta didik “dipaksa” untuk mengikuti program yang menuntut kerja intelektual yang tinggi. Hal-hal semacam ini yang seringkali menimbulkan implikasi negatif terhadap program akselerasi yang dilakukan, karena peserta didik tidak lagi memperoleh kenyamanan dalam mengikuti pendidikan tetapi berada dalam situasi yang terkekang dan terpaksa. Di sisi lain, guru yang mengajar di program akselerasi relatif tidak disiapkan untuk mengajar peserta didik cerdas istimewa. Hal ini mengakibatkan layanan yang diberikan guru tidak membantu berkembangnya potensi intelektual peserta didik.
Berdasarkan pemikiran tersebut di atas, pada tahun anggaran 2007, Direktorat Pembinaan SLB melakukan serangkaian diskusi dan workshop yang melibatkan para psikolog, akademisi, pendidik, dan pengelola program akselerasi untuk melakukan penyempurnaan konsep dan pedoman dengan memperhatikan berbagai kebijakan pemerintah yang tertuang dalam UU no. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, PP no. 19 tentang Standar Nasional Pendidikan serta berbagai aturan pemerintah lainnya yang terkait. Beberapa poin penting dari hasil penyempurnaan tersebut, akan disajikan secara ringkas pada bagian berikut ini.
Dari aspek kesiswaan, tes yang digunakan untuk merekrut siswa baru program akselerasi menggunakan tiga komponen yaitu: tes IQ, kreativitas, dan task commitment. Khusus mengenai tes IQ, skala minimal yang ditetapkan oleh para psikolog adalah 130 atau pada tingkatan very superior. Untuk tes IQ, para psikolog telah merekomendasikan beberapa jenis alat tes antara lain: Wechsler Intelligence Scale for Children, Stanford Binet atau Culture Fair Intelligence Test Skala 2A/2B.
Dari aspek kurikulum, pendidikan untuk anak cerdas istimewa membutuhkan diferensiasi kurikulum yaitu memberikan tugas dan kegiatan belajar yang berbeda dari rata-rata anak seusianya sesuai dengan kebutuhan belajarnya. Diferensiasi kurikulum bagi peserta didik cerdas istimewa dapat dilakukan melalui tiga jalur: enrichment (pengayaan) yaitu kegiatan belajar yang memungkinkan perluasan materi kurikulum, extension (pendalaman) yaitu kegiatan belajar yang memungkinkan investigasi bidang studi secara lebih mendalam, dan acceleration (percepatan) yaitu kegiatan belajar yang memungkinkan untuk menyelesaikan materi belajar dalam waktu yang lebih singkat (Davis dan Rimm, 1998).
Pengayaan berarti memperkaya, memperluas, dan mengembangkan: pengetahuan/informasi, pemahaman, aplikasi dan integrasi, proses berpikir, strategi dan keterampilan, tampilan fisik, sikap terhadap pemikiran abstrak tingkat tinggi dan/atau kinerja pada suatu tingkat kompleksitas sesuai tingkat perkembangan peserta didik (Davis dan Rimm, 1998). Kegiatan pengayaan dapat dilakukan dalam beberapa bentuk seperti studi ekskursi, topik-topik pilihan, projek individual ataupun kelompok, serta penelitian. Kegiatan pendalaman dapat dilakukan dalam bentuk pembelajaran berbasis ICT, pusat-pusat pembelajaran (learning centre) sesuai bidang studi, kontrak pembelajaran mandiri, mentoring, kompetisi bidang studi, ataupun pembelajaran berbasis sumber daya belajar (resource based learning).
Dalam pembelajaran yang diperuntukkan bagi peserta didik cerdas istimewa tidak cukup hanya dengan dimenukan dengan standar isi maupun standar kompetensi yang saat ini ada. Istilah standar mengacu pada pengertian threshold atau minimal, Mengingat peserta didik yang akan diajar adalah peserta didik cerdas istimewa, terasa janggal apabila harus disajikan dengan menu materi /isi pelajaran yang standar yang merupakan threshold bagi peserta didik regular yang kecerdasannya sedang/normal (Supriyanto, 2007)
Dalam pandangan konstruktivistik pembelajaran harus kontekstual dan memberikan peluang kepada peserta didik untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan pengalaman pembelajarannya. Atas dasar itu pembelajaran yang baik harus dirancang berbasis pada kontek sosial sekolah, konteks peserta didik serta konteks kompetensi yang dituju. Oleh Johnson (2002) dipertegas bahwa pembelajaran yang kontektual harus dirancang sesuai dengan karakter peserta didik. Apabila peserta didik yang dihadapi memiliki kunggulan maka pembelajaran harus dirancang dengan keunggulan dalam isi maupun dalam prosesnya.
Peserta didik dengan kecerdasan istimewa yang mempunyai kelebihan dalam kecepatan menyelesaikan tugas, mempunyai tingkat keunggulan dalam abtraksi berfikir memerlukan perancangan pembelajaran yang lebih cepat dan lebih unggul dalam tantangan berfikir (Renzulli, 1991). Persoalan yang kemudian muncul terkait dengan pelayanan pembelajaran bagi peserta didik cerdas istimewa bagi guru adalah bagaimana mengolah standar Isi (Kepmendiknas 22) untuk dimodifikasi menjadi isi yang sesuai dengan keunggulan peserta didik cerdas istimewa dan meningkatkan tantangan taraf berfikir yang cocok dengan peserta didik yang cerdas tersebut.
Penetapan kegiatan pembelajaran bagi peserta didik cerdas istimewa membawa konskwensi kepada guru untuk memodifikasi kegiatan pembelajaran bagi peserta didik reguler ke corak kegiatan pembelajaran yang menuntut corak berfikir tingkat tinggi. Pola kegiatan pembelajaran yang demikian luas cakupan dimensinya tidak cukup menggunakan pola one way traffic, sehingga pola seperti pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) maupun mengutamakan produk/proyek lebih banyak digunakan. Sebagai konskwensi dari pemilihan tipe problem solving yang demikian selanjutnya mengharuskan guru untuk menetapkan bobot materi juga harus bertipe setidaknya C-4 (analisis) dan jika dimungkinkan sampai C-6 (evaluasi) yang mendorong peserta didik berfikir tingkat tinggi dan kritis. Untuk menunjang itu guru tidak mungkin asal memindahkan materi dalam buku paket tetapi harus menseleksi materi dari buku bahkan harus mencari rujukan lain yang lebih berbobot. Sudah saatnya dalam konteks ini guru meninggalkan cara memilih materi pelajaran dengan bertumpu pada buku paket.
Berdasarkan konsep-konsep di atas, seyogyanya mengajar pada kelas peserta didik cerdas istimewa tidak hanya menambahkan dengan penggunaan teknologi informasi dan kominikasi (ICT) tetapi harus pula ditingkatkan bobot materi pelajaran dan bobot kegiatan pembelajaran, sebab tanpa itu sesungguhnya guru telah memberlakukan menu pembelajaran dengan materi yang tidak sesuai dengan karakter mereka yang berkemampuan diatas rerata peserta didik. Disinilah diperlukan guru yang berkedudukan sebagai agen pembelajaran dan profesional. Pembelajaran untuk peserta didik cerdas istimewa memerlukan bentuk pelaksanaan yang multi dimensi agar semua potensi yang istimewa dapat dikembangkan.
Dalam upaya mengembangkan kurikulum dan pembelajaran untuk pendidikan bagi anak cerdas istimewa, Direktorat PSLB telah menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi yang memiliki fakultas MIPA dan psikologi. Perguruan tinggi tersebut didorong untuk memberikan pendampingan bagi sekolah-sekolah yang menyelenggarakan program akselerasi dalam mengembangkan kemampuan belajar siswa maupun guru yang mengajar di program tersebut.
Di sisi lain, proses pembelajaran yang dilakukan untuk peserta didik bekecerdasan istimewa tetap mengusung nilai-nilai inklusivisitas. Artinya peserta didik cerdas istimewa dimungkinkan untuk bergabung dengan peserta didik program reguler untuk mata pelajaran-mata pelajaran tertentu. Hal ini perlu dilakukan agar peserta didik cerdas istimewa tidak merasa sebagai sebuah kelompok eksklusif yang dapat menimbulkan rasa percaya diri yang berlebihan (superiority complex). Sementara itu peran guru bimbingan dan konseling (BK) juga ditingkatkan dalam upaya mengoptimalkan potensi kecerdasan yang dimiliki peserta didik. Upaya ini dilakukan agar penyelenggaraan progam akselerasi tidak hanya menekankan pada perkembangan intelektual, tetapi harus memperhatikan perkembangan emosional dan sosial anak yang seirama dengan perkembangan keremajaannya. Selain itu program BK diharapkan dapat mencegah dan mengatasi potensi-potensi negatif yang dapat terjadi dalam proses percepatan belajar. Upaya ini dilakukan dengan membangun kerjasama dengan psikolog pendidikan dan perkembangan dari fakultas/jurusan psikologi di beberapa perguruan tinggi yang telah menjalin MoU dengan Direktorat PSLB.
Dari aspek kelembagaan dan manajemen sekolah, orientasi yang dikembangkan oleh Direktorat PSLB adalah pemberdayaan manajemen penyelenggara program akselerasi. Sekolah penyelenggara diwajibkan untuk memiliki kepala/manajer program akselerasi yang tidak dirangkap oleh kepala sekolah. Hal ini dilakukan agar penyelenggaraan program berlangsung secara efektif dan pengembangan program dilakukan secara berkesinambungan. Sebagaimana diketahui secara kelembagaan, sekolah/madrasah penyelenggara program akselerasi berada di bawah pembinaan direktorat teknis sesuai dengan jenjang sekolah yang bersangkutan. Sedangkan Direktorat PSLB memberikan pembinaan pada penyelenggaraan programnya.
Sekolah-sekolah yang telah menjadi penyelenggara maupun yang ingin merintis pelayanan bagi peserta didik cerdas istimewa diharapkan untuk melakukan pemetaan (mapping) yang menggambarkan populasi anak cerdas istimewa di lingkungan sekolah tersebut. Dengan demikian, penyelenggaraan program akan terjaga kontinuitasnya dengan adanya jumlah input yang terjamin berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Hal ini perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya penyelenggaraan program yang mengikutsertakan calon siswa yang sebenarnya tidak memenuhi kriteria. Oleh karena itu, kebijakan yang dikembangkan oleh Direktorat PSLB bukan meningkatkan kuantitas sekolah penyelenggara program layanan bagi anak cerdas istimewa, tetapi mendorong peningkatan kualitas. Namun demikian, peluang untuk membuka program layanan bagi anak cerdas istimewa dalam bentuk kelas di sekolah reguler maupun sekolah khusus tetap dibuka dengan mengacu pada pedoman yang telah ditetapkan.
Demikianlah beberapa hal-hal yang perlu menjadi perhatian bagi sekolah, orang tua maupun pihak-pihak yang terkait dengan pelayanan pendidikan bagi anak cerdas istimewa. Diharapkan diwaktu-waktu mendatang, efektivitas penyelenggaraan program ini semacam ini terus meningkat dan pada gilirannya dapat mewujudkan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Daftar Pustaka
Davis, G. A. & Rimm, S. B. (1998). Teaching The Gifted And Talented Children. Boston: Allyn & Bacon.
Direktorat Pembinaan SLB (2007). Penatalaksanaan Psikologi Program Akselerasi. Jakarta: Direktorat PSLB.
Peraturan Pemerintah no. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
Peraturan Pemerintah no. 20 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
Suprianto, Eko (2007). Pengembangan Model Pembelajaran bagi Siswa CI dan BI. Makalah dipresentasi dalam ”Sosialisasi Pengelola Layanan Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Cerdas dan/atau Bakat Istimewa” Juli 2007 di Menado.
UU no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Tuesday, November 13, 2007

Kalau Yayasan Autisme Indonesia berkomentar




KALAU PENGASUH YAYASAN AUTISME INDONSIA BERKOMENTAR



Di bawah ini adalah tanya jawab masyarakat kepada pengasuh Yayasan Autisme Indonesia, yang berkomentar tentang saya dan kegiatan saya. Komentar terhadap diskusi di bawah ini dapat juga dibaca di: Multiply ini

Bagaimana komentar anda?
Julia Maria

NB : Entong anakku gak pernah pakai obat-obatan apalagi mengikuti terapi autisme tetapi tahun ajaran 2008 sudah akan masuk sekolah lanjutan khusus (gymnasium) untuk anak-anak gifted, dengan prestasi sekolah yang sangat baik dan perkembangan bahasa serta sosial emosional yang juga sangat baik. Tak pernah ada diagnotician apapun yang memberinya diagnosa autisme, kenapa saya harus mengakui sesuatu yang tidak ada? Sementara itu kelompok yang telah kami bina dalam berbagai PSG gifted di berbagai kota di Indonesia mampu mengasuh anak-anaknya tanpa harus memberinya obat-obatan apapun, karena memang tidak membutuhkan. Prestasi dan dengan strategi pembinaan sosial emosional nya yang sesuai, perkembangan itu juga semakin anak membesar juga semakin baik. Anak-anak seperti ini memang mempunyai prognose (prakiraan ke depan) yang sangat baik. Karenanya seringkali dimanfaatkan oleh berbagai pengobatan terapi alternatif untuk dijadikan testemoni kesembuhan.
Tegakah saya mengecoh saudara-saudaraku sendiri, temen-temenku sendiri, bahkan rakyat Indonesia yang sungguh kucintai lahir dan bathin itu?
Jika ada symptom yang mirip bukan berarti kemudian anak-anak gifted ini perlu terapi autisme, karena memang neurobiologi nya berbeda. Ia adalah differential diagnosa (diagnosa pembandingnya). Dan membutuhkan penanganan yang berbeda, sekaligus ke dua arah baik faktor kuatnya sebagai anak gifted, dan juga masalah disinkronitas perkembangannya.
Di negara-negara yang standar mediknya baik, diagnosa gak mungkin bisa ngarang-ngarang sendiri, karena kelak kaitannya dengan banyak hal: yaitu funding service di sekolahnya, program sekolahnya, program layanan khususnya ( seperti speech terapis, terapi gerak, remedial teaching), asuransi, dan berbagai subsidi lainnya yang ditetapkan oleh pemerintah.....
---------------------------------------



patokan dignosa
T: kenapa kita terkadang terpatok pada satu diagnosa?ketika kitamenemukan beberapa indikasi kita langsung mengatakan bahwa anak inimenjadi anak autis atau yang lain.kenapa saya tanyakan ini karenakemarin saya baru baca buku "anakku telat berbicara' pengalamannyata seorang ibu (tinggal di belanda) yang anaknya ternyata Giftedyang pada mulanya terindikasi sama dengan diagnosis autis. ternyatadibutukan banyak ahli untuk menentukan hal itu.Kapan Indonesia dapat memberikan perhatian lebih kepada anak-anak berkebutuhan khusus karena kesalahan diagnosa akan memberikan suatu beban tersendiri bagi anak-anak berkebuthan khusus dan orangtuanya dalam menghadapi masa depannya.

desi tri cahyani - purwokerto
J: Untuk bisa melakukan diagnosa bahwa seorang anak itu menderitagangguan perkembangan seperti autistik,ADHD, maupun terlambat bicara ada kriteria diagnostik tersendiri.Bukunya tebal dan dipakai sebagai panduan oleh semua dokter diseluruh dunia. Jadi tidaklah benar kalau dikatakan bahwa dokter2di Indonesia kurang bisa mendiagnosa/ menangani anak autistik.Gifted ? Memang anak autistik banyak yang gifted !Dan kemungkinan besar itulah yang terjadi pada anak di Holland tersebut yang ibunya tidak mau mengakui bahwa anaknya mempunyaiciri2 autistik.Penulis buku tersebut pernah datang ke Indonesia, bertemu denganbeberapa orang tua anak autistik, dan setelah melihat anak2nyasekilas, mengatakan bahwa anak2nya salah diagnosa, tidak autistiktapi gifted.Hal tersebut membuat heboh, tentu saja ibu2 tersebut senang bahwaanaknya ternyata bukan autis tapi gifted.Tapi dengan berlalunya waktu mereka menyadari bahwa mereka telahterkecoh, karena anak2nya setelah berhenti terapi autis(karenagifted) gejala2 autisnya jadi berat lagi.http://www.autisme.or.id/konsultasi/konsultasi.php?Id=950

Monday, May 15, 2006

Autisme atau Gifted terlambat bicara?

TERLAMBAT BICARA , AUTISME atau GIFTED?


Bila kita mendapatkan anak dengan keterlambatan bicara, apa artinya, bagaimana mengetahuinya, apa gejalanya, apa sebabnya, dan apa yang harus kita perbuat.

Klik disini
Anak dengan keterlambatan bicara




Bagaimana kita bisa mengerti bahwa anak kita gifted yang terlambat bicara ?

Klik URL ini:

Autisme, Gifted terlambat bicara, bagaimana membedakannya?


Bagaimana jika kita mendapatkan anak kita diusianya yang ke satu sudah mulai berbicara, namun perkembangan itu hilang di usianya yang ke 18 bulan. Perkembangan bahasa dan bicaranya tidak berkembang ke arah perkembangan yang lebih maju, tetapi justru mundur? Kelompok yang disebut Pure Dysphatic Development. Bagaimana kita harus mengahadapinya dan apa yang harus kita lakukan? Gejala apa saja yang harus kita kenali?

Klik disini
Bagaimana menanganinya


Bagaimana bila anak-anak kita menerima Sensory Integration Therapy? Untuk penjelasan efektivitasnya anda dapat mendapatkannya dalam banyak position paper yang kini sudah dikeluarkan oleh berbagai negara di dunia serta dikelaurkan oleh berbagai himpunan profesi yang berkaitan dengan tumbuh kemabng anak-anak.

Klik disini:

Position Paper Sensory Integration Therapy

Dan disini:

Controvesial Practices

Position Paper adalah pernyataan yang dikeluarkan oleh himpunan profesi berdasarkan hasil-hasil kesepakatan dan bukti penelitian ilmiah.

Saturday, September 18, 2004

Mboke Entong

Jalan jalan
mboke Entong
Originally uploaded by segaintil.

Bapake Entong


jan
Originally uploaded by segaintil.

Ayu yg suka nyariin bacaan

new year's snow
new year's snow,
originally uploaded by greige.

Si Entong anakku semata wayang


Si Entong anakku semata wayang
Originally uploaded by segaintil.

Thursday, September 16, 2004

Dongeng Si Entong Anakku

APAKAH ANAK GIFTED ITU?


Julia Maria van Tiel
(ditulis Januari 2001)


Saya mengenal kata-kata ini dua tahun lalu, dalam bahasa Belanda digunakan term hoogbegaafd, dan saya mengenal kata anak luarbiasa sebagai term yang digunakan untuk term anak gifted baru bulan lalu, saat berlibur ke Indonesia di akhir tahun 2000. Pengenalan dua tahun lalu itu ternyata benar-benar merubah pengertian di kepala saya tentang anak gifted. Dahulu saya menyangka bahwa anak gifted adalah anak yang hebat, mempunyai IQ sangat tinggi dan mampu berprestasi luar biasa. Tetapi apa yang saya hadapi, ternyata lain. Dahulu saya tak pernah menyangka bahwa pola perkembangan dan pertumbuhan alamiah anak gifted itu ternyata rumit sekali, dia sama sekali lain dengan anak normal. Dan mempunyai variasi sekitar 10 pola. Sedang pola anakku andai dibandingkan kebetulan mirip pola anak autis tipe Kees Momma. Kees Momma adalah anak Belanda yang mempunyai fotografis memori yang hebat, mampu menuangkan apa yang dilihatnya dalam bentuk lukisan grafis betul-betul mirip dengan aslinya, sangat rumit dan detail, bagai foto layaknya. Meski dia sangat cerdas, tetapi dia autis dengan gangguan fungsi emosi, sosial dan kekurangan hormon perkembangan yang disebut hormon somatotropin. Ia berbadan kecil, tak mampu bercanda dan tertawa. Ia dingin, dan tak mempunyai sahabat. Tetapi ia survive, bisa bekerja dibagian arsip di kantor pemerintah daerah.
Karenanya setelah saya mengalami konflik panjang lebar dengan guru-guru kelompok bermain, saat diperiksa oleh drs. Pim van de Pol, seorang orthopedagog kandidat profesor dari Universitas Leiden, dia mengatakan bahwa kemungkinan anakku autis, jika melihat bahwa perilakunya banyak dipengaruhi oleh kemampuan fotografis memorinya persis seperti Kees Momma. Tetapi bisa juga barangkali anak gifted yang mempunyai otak normal, namun mempunyai sistem hormon yang maksimal, tetapi justru mengalami gangguan konsentrasi. Sehingga perilakunya menjadi mempunyai perkembangan yang persis mirip anak autis pada umumnya, namun ada beberapa hal yang membedakannya. Karena itulah orthopedagog yang menghususkan diri pada terapi anak bermasalah ini menganjurkan memeriksakan lebih lanjut ke psikolog untuk melihat apakah benar anakku mengalami suatu perilaku yang terfiksasi (gefixeerd) sebagaimana anak autis, dan ke dokter anak untuk melihat kembali tumbuh kembangnya secara biologis.
Itulah awal perjuangan saya untuk mengetahui apa sebenarnya anak saya itu. Sangat kebetulan, saya mempunyai latar belakang dari bidang medis, meski dengan berbagai kesulitan terminologi dan pengertian, berbagai buku tentang pola perkembangan yang menyimpang bisa saya rambah. Mulai dari masalah psikologi, pendidikan, neurologi, psikiatri, faal, biokimia dan sebagainya. Saya juga diwajibkan membaca berbagai literatur untuk membantu para penegak diagnosa melakukan observasi perkembangan anak itu. Dan bersama sama membahasnya dengan berbagai diagnosa pembanding. Karena anak gifted dalam sejarahnya sangat menyedihkan, masa balitanya sering dituding sebagai anak autis, anak NLD (Nonverbal Learning Disorder), MBD ( Minor Brain Damage), atau anak ADHD (Attention Deficit Hyperactuvity Disorder). Kelak diagnosa pembanding ini juga ingin saya ceritakan pada anda. Anak gifted sendiri juga mengalami banyak problem psikologis yang orang lain tidak bisa mengetahui, karena anak gifted bagai dua ujung yang tajam, hatinya seringkali mengalami kefrustrasian, tetapi mukanya selalu cerah. Ia nampak selalu happy, itu beda yang utama dengan anak autis. Onderduiker, begitu istilahnya dalam bahasa Belanda. Karenanya tidak sedikit anak gifted yang merasa putus asa dan bunuh diri.Dia macam anak zizofrenia. Masalah seperti ini juga kelak akan saya ceritakan pada anda.
Perubahan cara memandang anak gifted di belahan Eropa sejak sepuluh tahun terakhir ini, diawali dari kenyataan, banyak anak gifted yang mengalami salah diagnosa, lalu mereka di kirim ke panti-panti autis, mendapat terapi berbagai medikamentosa dan intervensi perilaku, atau mendapat diagnosa Minor Brain Damage dan dimasukkan sekolah luar biasa untuk anak- anak terbelakang. Bahkan kini berbagai laporan di teleivisi, baik di Ingrris, Amerika, dan Belanda (saya hanya lihat chanel dengan dua bahasa itu, karena bisanya ya hanya itu), masih banyak kejadian bahwa anak gifted kesasar diagnosa diberi label ADHD (anak hiperaktif) lalu diberi Ritalin sampai bertahun-tahun. Kasihan mereka. Setidaknya begitu juga laporan Stanley I. Greenspan, seorang profesor psikologi perkembangan anak yang juga psikiater dari Universitas George Washington Amerika, dan bertugas sebagai direktur lembaga autis. Ia menyinggung dilema ini dalam bukunya The Growth of the Mind and Endangered Origins of Intelligence (1997), bahwa banyak pasien yang dikirim ke lembaganya setelah bertahun-tahun dirawat ternyata bukan anak autis, tetapi anak gifted. Laporan di Belanda justru lebih mengejutkan, bahwa 10 persen dari anak yang dikirim ke SLB ternyata anak gifted. Dan coba juga perhatikan cuplikan di bawah ini yang mengharukan, laporan dari Profesor Franz Mönks dalam bukunya Hoogbegaafde Kinderen Thuis en op School (1995). Mönks adalah seorang guru besar dari Universitas Katolik Nijmegen, Negeri Belanda, yang menspesialisasikan diri pada pertumbuhan dan perkembangan anak-anak luarbiasa.
Jos seorang anak Belanda, masa TK nya harus dijalaninya di SLB bersama anak-anak lain yang kurang kecerdasannya, ia menerima diagnosa MBD (Minor Brain Damage), karena ia tak mampu menerima pendidikan sebagaimana layaknya anak normal. Di Tk kelakuan dan kecerdasannya tak kunjung meningkat. Karenanya ia dianjurkan harus masuk SD luar biasa khusus untuk anak bermasalah, bahkan harus diasramakan pula. Dengan kata lain, pendidikan ini semacam penyantunan bagi anak yang sangat bermasalah. Tetapi ibunya menampik anjuran ini, ia bergegas mencoba ke SD biasa, karena ia melihat anaknya di rumah sebagai anak yang tak bermasalah malahan anak yang cerdas. Beruntung Jos boleh mencobanya. Tetapi disinipun nasib malang masih menimpanya, ia dikirim ke sekolah bagi anak yang lemah kecerdasannya. Lagi lagi SLB. Tetapi di sekolah ini gurunya tak mampu menanganinya, selain ia tak bisa diajak untuk menerima pelajaran, ia juga sungguh banyak begerak macam anak hiperaktif, dan tak mampu berkonsentrasi. Gurunya meminta untuk dilakukan pemeriksaan psikologi baginya, agar mereka mengerti bagaimana harus menangani Jos. Tetapi setelah dilakukan beberapa pemeriksaan ternyata Jos adalah anak luar biasa yang mempunyai kemampuan inteligensia sangat tinggi melebihi kemampuan inteligensia usia kronologisnya. Dengan begitu Jos memerlukan pendekatan lain. Ia dikirim kembali ke SD biasa, namun memerlukan rehabilitasi sosial dan emosional yang sudah kepalang terkoyak karena hanya bergaul dengan anak-anak yang mempunyai masalah perkembangan, bahkan menerima terapi medikamentosa karena harus menanggung diagnosa MBD dan hiperaktif. Saat itu tahun 1988, saat Jos sudah berusia 10 tahun. Ia harus bergaul dengan anak yang memiliki problem perkembangan dan kurang kecerdasan selama 6 tahun, dan kehilangan masa kanaknya yang menjadi haknya sebagaimana adanya dirinya.
Berbagai kejadian yang mengharukanlah yang medorong Prof. Mönks membuat film dokumenter untuk memberikan penerangan pada masyarakat dan kelompok profesional, bahwa pandangan terhadap anak gifted harus dirubah. Film itu berjudul Hoogbegaafd met vallen en opstaan (1988). Dalam film itu juga dipaparkan bagaimana nasib malang para anak gifted itu masa balitanya.
Kini pola alamiah tumbuh kembang anak gifted juga mendampingi proses penegakan diagnosa bagi bagi anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan, termasuk juga autis dan lain-lain. Karena masa balitanya, ia ada yang mirip anak autis, anak hiperaktif, atau anak NLD.



GANGGUAN KONSENTRASI
(Autis vs Gifted)


Betapa kontroversialnya penjelasan Stanley I. Greenspan dalam bukunya The Challenging Child (1995) tentang kinerja atau performance seorang anak yang mengalami gangguan bicara bila dibandingkan dengan pendapat umum. Ia menjelaskan dalam bab 6 tentang anak yang mengalami gangguan konsentrasi yang dibahasnya selain secara neurologis tetapi juga psikologis dan pedagogis (maklum ia kan profesor dalam bidang neurologi psikiatri yang memperdalam juga psikologi). Ia mengatakan bahwa anak yang terlambat bicara, tidak mampu menjawab pertanyaan guru atau siapa saja, dan hanya menyuguhkan wajah penuh tanda tanya melongo, dituding sebagai anak yang mempunyai inteligensia rendah. Tetapi menurutnya sesungguhnya belum tentu, bisa juga ia mempunyai kemampuan dimensi yang sangat baik sebagai bekal perkembangannya mencapai intilegensia tinggi. Karena itu anak-anak semacam ini perlu diperhatikan apakah ia mampu berkomunikasi dengan bahasa isyarat atau tidak. Jika ia tak mampu berkomunikasi dengan bahasa isyarat, barulah dapat diperkirakan bahwa anak ini memang mengalami gangguan perkembangan di otak, terlebih bila ia juga mengalami gangguan perkembangan motorisnya. Pada anak yang mempunyai inteligensia tinggi meski ia mengalami speech delayed, mengalami gangguan konsentrasi seperti di atas, bila ia mampu melakukan bahasa isyarat, sudah pasti ia tidak mempunyai gangguan di otak bagian yang mengatur inteligensia tadi, katanya.....
Pada anak-anak yang kelaknya ternyata menjadi anak gifted, memang mempunyai persamaan dengan anak autis tipe Kees Momma, sama-sama speech delayed dan mengalami gangguan konsentrasi. Jika melihat sudut yang ini, dan perilaku sehari-harinya yang petakilan, senang melakukan pencanderaan (waarneming dalam rangka pengembangan kemampuan dimensi guna pemenuhan tugas dirinya melaksanakan pengembangan intligensia) hingga macam terobsesi, terfiksasi, dilakukan berulang-ulang dengan ritme dan ritual yang sama, matanya sulit diajak berkontak secara baik, mengalami gangguan perkembangan sosial, memang kita bisa terkecoh. Tetapi yang dapat membedakan adalah bahwa anak macam Kees Momma mengalami gangguan sistem emosi. Pim van de Pol menjelaskan pada saya, bahwa antara Entong anakku dan Kees Momma macam sebuah kertas yang dilipat dua. Sebelah kiri, adalah Kees Momma, dan sebelah kanan adalah anakku. Sebelah kiri milik Kees Momma, mempunyai cacat mikro di otak di bagian lobus yang mengatur emosi, sedangkan si Entong tidak. Pengakuan Kees Momma sendiri dalam bukunya bahwa ia memiliki hormon perkembangan (Somatotropin) yang rendah, sehingga diusianya 16 tahun perkembangan fisiknya telah berhenti. Bisa jadi itu juga yang menyebabkan berbagai perkembangan di otaknya menjadi kurang sempurna seperti perkembangan memori jangka pendeknya yang mengatur komunikasi sehari-hari, karenanya sampai usia enam tahun ia masih harus menjalankan speech therapi. Badannya pun kecil dengan kepala dan mata yang besar. Kees Momma juga tidak mampu menterjemahkan bercandanya orang lain, sedang Entong tukang ngeledek, uitdagen istilah yang sering dipakai dalam konteks psikologi dan pedagogi di Belanda untuk perilaku semacam ini. Masalah Kees Momma mengapa sampai cuek begitu bisa dijelaskan melalui pernyataan Greenspan dalam bab anak yang menarik diri. (kapan-kapan saya ceritakan).
Berbagai gangguan konsentrasi itu dijelaskan oleh Greenspan dalam 2 kelompok:
Kelompok pertama yang menyangkut pada proses informasi, berupa informasi yang masuk ke telinga, dan informasi yang masuk melalui mata. Masalah informasi yang masuk melalui telinga – otak – mulut dalam rangka proses komunikasi tanya jawab yang disebutnya AUDITIEF-VERBALE VERWERKINGPROBLEM ( Problem Proses Auditief – Verbal). Masalah informasi yang melalui mata membawa akibat pada PROBLEM KEMAMPUAN PANDANG RUANG (DIMENSI).
Sedang kelompok kedua yang menyangkut pada problem MOTORIK yang berawal dari tiga hal yaitu tonus otot motorik, motorik programing, dan kemampuan persepsi-motorik (sperti kemampuan membuat gambar-gambar figur).

Pada masalah kelompok pertama yaitu informasi yang masuk melalui mata dan telinga, umumnya memang anak gifted mengalami problem informasi yang melalui telinga, senengannya mbudeg memang. Mbudegnya luar biasa, sampai mengalami apa yang disebut gangguan proses auditive-verbal. Hal yang sama juga dialami oleh anak autis macam Kees Momma atau anak autis yang mengalami speech delayed. Pada usia balita memang dalam hal ini mirip sekali, tatapi menurut Mönks anak gifted kelak pada waktunya jika sudah selesai dengan fase nggrataknya, tenang, dengan cepat ia bisa menyusul ketinggalan, bahkan menurut Greenspan dalam bukunya De Ontwikkeling van intelligentie, anak gifted ini besarnya mampu ngoceh masalah rumit dengan bahasa tinggi kemana-mana yang sering juga menakjubkan karena mampu mengurai hubungan fenomena yang satu dengan fenomena lainnya. Dia berbicara mulai dari yang global menuju yang detil. Karenanya dia selalu menguasai permasalahan begitu baik. Sebaliknya anak bukan gifted selalu berbicara dari yang detil menuju yang global. Aneh ya, padahal kecilnya mbudeg, mbisu pisan hanya dengan bahasa planet yang cuma cha cha cha cha.....cuuuiiitt cccuiiit.... cccceeettttt eli eli eli eli eli eliiiiiii.... pa pu pa pu pa pu paaaa......
Gangguan proses auditive-verbal ini dimungkinkan karena pekerjaan long term memorinya overload, yang pada anak gifted menyebabkan short term memorinya tertekan, ogah kerja lagi untuk sementara. Sementara pada anak autis yang memang dari bayinya anteng di boxnya, seneng nontonin jari-jarinya yang bisa dikruwel kruwel (si Entong juga seneng nonton jari-jarinya, tapi kalau saya ngelongok ke boxnya, si Entong yang masih empat bulanan itu segera nyengir kakinya ketawil ketawil, dan tangannya jogetan, sedang kata Greenspan anak autis didatangi ya cuek saja, diangkat malah marah karena keasyikannya diganggu). Nonton jari-jarinya itu kata Greenspan sebagai kegiatannya yang menggunakan long term memory. Tapi pada anak autis short term memorynya memang pertumbuhan dan perkembangannya kurang atau cacat, sehingga sampai besar juga jika diajak bicara ampleng-amplengan terus, ditanya apa dijawab apa, engga cocok. Si Entong juga, sampai umur 4,5 masih begitu. Kalau ditanya : wat hebt jij gedaan vandaag op school? (apa yang kamu kerjakan hari ini di sekolah?) dia jawab selalu : Springhans (nama sekolahnya). Besoknya kalau ditanya lagi: Hoe heet je Juf? (Siapa nama gurunya): dia jawab lagi: Springhans ..... Lagi lagi begitu, bikin ulu hati saya cekot cekot. Padahal di rumah sejak empat tahun, atas anjuran orthopedagog dari CBO Universitas Nijmegen, dia di beri komputer pribadi. Mainlah dia dengan komputer dengan segala macam software seperti game, pelajaran menulis, pelajaran membaca, berhitung, bahasa, lego untuk menciptakan berbagai disain kota, racing, dll. Dia bermain begitu cepatnya seperti biasanya yang larinya juga full speed .. Tidak perlu diajari dua kali, dan memang dia tidak mau diajari, selalu coba coba sendiri. Mulai memilih software, membuka program dan menjalankannya, dia antusias dan anteng. Pokoknya bisa ditinggal. Sayangnya segala software yang baru umurnya engga sampai dua tiga hari, dia merasa softwarenya sudah tua, perlu diganti yang baru. Begitulah dia bikin bangkrut kantong. Dan saat segala software sudah habis diborong dan dicoba, dia tidak mau main komputer lagi, tapi kembali jumpalitan. Marah-marah dan ngegriyeng, cari konflik dengan emaknya. Dia memang hebat main komputer, main lego racing, semua anak tetangga bahkan bapak-bapaknya diadu kalah semua. Tapi di sekolah, wha...... laporan nol besar, kerja engga mau, loncatan saja, bermain bersama ngacak, ngomong juga kacau balau. Baru umur lima tahun kurang empat bulan membuat terkejut kita semua, tiba tiba dalam dua minggu dia sudah ngomong nyerocos dan nyambung dua arah, bahkan mampu memberikan komentar orang bicara sementara dia sedang asyik bermain. Dia mengalami loncatan perkembangan.
Tetapi ada tetapinya, jangan senang dahulu. Saya selalu dibuat puyeng olehnya. Karena harus bermain tebak cermat terus. Sebab cara ngomongnya aneh, bikin bingung, meminta suatu barang tidak menyebut namanya tetapi menjelaskan bentuknya, sambil tangannya membuat gerakan membulat atau persegi.... zo zo zo..... katanya. Biskuit bernama Knappertje dia sebut kleine letterjes in de vier kant (huruf kecil ditempat persegi empat), chips Bagel dia sebut een rondje ding met een prik (barang bulat pakai luncip luncip), es loli dia sebut een lange stokje met een lekkers (batang panjang yang pakai enak enakan) sambil jarinya keluar masuk mulut, jagung rebus dia sebut kleine dingen in de stokje (barang kecil kecil nempel di batang) sambil tangannya di putar putar didepan mulutnya, cicak dia sebut een kleine dier met een buik met vier voetjes lange staart grotte oogjes die altijd nast de muur en kan ook zo hard rennen ( binatang kecil yang punya sebuah perut dengan kaki empat buntut panjang mata besar yang selalu nempel di dinding dan bisa juga lari cepet).......Bikin kepala puyng, setiap hari, begitu lagi begitu lagi. Kalau saya ketawa dia marah, kalau saya tidak tahu apa yang dia maksud, dia juga marah, sambil teriak: Mama is stoooommm! (Mama gobloookkk).
Keadaan ini disebabkan karena memori jangka pendeknya beberapa waktu kebanyakan cuti dan mbolos, maka ia ketinggalan menjalankan tugasnya mengumpulkan nama-nama benda, melakukan identifikasi, dan melatihnya sampai akhirnya mampu menyebutnya kembali. Anak kecil umur setahun kan sukanya nuding nuding sambil nyebut nyebut segala macam yang dia lihat. Karenanya si Entong anakku itu harus belajar mengejar ketinggalannya. Belajar macam bayi lagi..... he he he.... Caranya adalah dengan melakukan rol playing, bermain pura pura dengan berbagai figur miniatur, macam main panggung boneka. Tetapi alat main itu dari boneka yang mirip aslinya dan yang ada dalam sehari-hari. Berbagai macam binatang, berbagai macam alat rumah tangga, dan sebagainya. Sambil bermain disebutkan berbagai macam nama benda itu. Atau sering diajak ke kebun binatang, jalan-jalan di toko-toko sambil nudingin barang. Dengan begitu akan lebih cepat ditangkap. Karena anak seperti ini belajar lebih kuat dengan matanya, bukan kupingnya. Tetapi jangan coba dengan gambar-gambar dari buku apa lagi yang tidak yang tidak tiga dimensi, dengan bentuk yang penuh khayal jauh dari aslinya. Harus diingat selalu bahwa dia adalah anak berfotografis memory yang selalu mengandalkan kemampuan tiga dimensinya.

Ceritanya masih dalam gangguan masalah proses auditif-verbal.
Gangguan ini ternyata memang agak mengerikan. Karena waktu si Entong di ajak ngomong oleh ibu guru, dengan tatapan mata kosong dia memandang ibu guru. Dia hanya melongo, bagai anak benar-benar bodoh. Matanya tidak ada fokusnya. Persis seperti anak autis. Berbeda jika dia sedang meminta sesuatu dengan bahasa isyaratnya, atau ngeledek-ngeledek orang matanya berbinar binar tajam. Waktu itu umurnya belum tiga tahun. Lalu setiap hari ibu guru bertanya pada Entong, masih saja melongo. Dengan saya tidak terlalu melongo, karena kami selalu berkomunikasi dengan berbagai bahasa isyarat. Dan saya tahu betul arti bahasanya, misalnya tek tek kata buat remote controle televisi, titit buat telivisi, tutut kata buat anjing…. Dan sebagainya. Semua kata sebelum usia 1,5 tahun yang dia miliki hilang habis dilanda huru hara jumpalitan dan fase penuh observasinya. Rupanya gangguan ini memang mengena proses rangkaian komunikasi. Bukan budeg telinganya. Tadinya disangka begitu, jangan-jangan budeg karena kebanyakan infeksi telinga karena kebanyakan sakit pilek sebagai tanggungannya punya kelemahan alergi di hidung. Waktu diperiksa memang dia engga budeg, Dokter yang demen ngintipin telinga pakai lampu batere kecil itu bilang, ah gendang telinganya GPP (gak pa pa …..Eh saya pengen tahu aja, dokter sekarang kalau menjawab konsultasi jika dalam pemeriksaan tidak menemukan apa-apa, apa masih menggunakan istilah T.A.K = tidak ada kelainan, atau sudah dirubah menjadi GPP…… bahasa ngtrend saat ini, ya?). Bahkan terhadap berbagai rangsang suara sehalus apapun dia sensitif sekali. Artinya impuls berupa kalimat yang terangkai sebagai makna dalam kumunikasi, dia tak mampu menterjemahkan. Menurut berbagai buku, reseptor di bagian short term memorynya memang tidak bekerja. Informasi itu berhenti sampai disitu saja, tidak di olah lebih lanjut dan bekerja sama dengan long term memory yang memiliki berbagai file dokumen berbagai daftar kata kosa, lalu dirangkainya dalam bentuk kalimat dan disalurkan ke mulut dalam bentuk kata-kata jawaban.
Sepanjang fase gangguan ini dari usia 18 bulan hingga persis tiga tahun kurang seminggu (busyet detil banget)…dia memang tidak pernah menirukan apa yang dikatakan oleh orang lain. Tidak seperti teman saya cerita, anaknya yang umur 18 bulan macam beo, kerjanya menirukan apa yang dikatakan orang. Itu memang normalnya demikian.
Sedang autis yang tidak punya kreativitas macam Kees Momma itu, sampai besar ya hanya menirukan orang, macam beo. Terbalik dengan Kees Momma. Maka Kees Momma disebut mempunyai gangguan hyperlexia.
Pada anak gifted, gangguannya bukan berupa gangguan anatomis artinya tidak cacat, hanya gangguan fungsi. Sedang anak autis macam Kees Momma memang mempunyai gangguan anatomis sehingga kemampuannya rendah sekali. Terjadinya saat masa pertumbuhannya, saat ia masih di dalam kandungan. Bukan salah bunda mengandung, tetapi berbagai hal bisa terjadi, mulai dari genetis sampai berbagai gangguan saat dalam perut.
Fungsi short term memori pertama mulai kerja lagi saat, saya masih ingat benar. Hari itu hari Rabu, bulan Februari persis dua tahun lalu. Salju turun sepanjang beberapa hari. Saya menjemput dia menggunakan slee, kereta es yang ditarik. Sampai di sekolah play grupnya dia tengah berdiri di atas bak pasir. Matanya agak suram tidak berbinar sebagaimana biasanya kalau saya datang. Saya merasakan ada yang aneh. Saya angkat dia dari atas bak, sambil berkata: Kom, we gaan naar huis (ayo, kita pulang ke rumah). Tiba-tiba secara lirih saya dengar suara dia dekat kuping saya: naar huis….! Itu kata pertama yang saya dengar setelah satu setengah tahun menghilang. Padahal dulu kalau mau tidur kita masih sering main tunjuk hidung, pipi, telinga, rambut dlsb. Dan dia bisa mengikuti: Nouuuusje (hidung)….. haaaaaartjessss.. (rambut)… dsb. Mendengar dia mengikuti kata naar huis…….. walau hanya ujung kalimatnya saja, wah hati saya sudah kembang kempis. Rasa riang saya lebih hebat lagi saat sambil menarik slee dia bernyanyi banyaaaaaaaaakkkk luar biasa. Sampai rumah juga dia doyan nyanyi betul. Beberapa hari kmudian perkembangan bicaranya di test oleh dokter anak, dia bisa nyanyi Topi Saya Bundar, pakai echo segala. GR-nya bukan main saya. Sampai sampai saya pikir, ah dia kelak jadi penyanyi kondang nih ya. Emaknya boleh ngikut keliling dunia kalu dia sedang tour.
Tapi nanti dulu GR-nya engga bisa diterusin. Saya kecele. Sebab doyan nyanyinya memang hanya dua minggu saja. Kalau dihitung sebanyak 40 lagu. Padahal dalam literatur pediatri, anak yang mempunyai keterblakangan mental di usia tiga tahun rata-rata hanya mampu menyanyi satu buah lagu saja, seperti si Marx teman sekelasnya Entong. Selanjutnya si Entong tidak pernah nyanyi lagi. Biar dipaksa mulutnya dimangapin juga engga mau. Ganti dengan doyan lainnya, doyan menggambar, yang juga cuma satu bulanan. Terus doyan menggambarnya hilang lagi. Tapi gambarnya sekaligus puluhan jumlahnya. Lalu perkembangan mengikuti kata-kata orang tidak lantas berkembang lebih lanjut menjadi perkembangan bicara yang lebih sempurna. Dia kembali afgeleid……. Lari kembali ke perkembangan long term memorynya. Menggambar tadi, sebagai bentuk implementasi kemampuan motorik yang diatur oleh fotografis memorynya. Saat mana dia sudah rampung dengan tugasnya ngegratak berbagai barang guna memenuhi juklak pemenuhan kapasitas inteligensianya. Dan sudah menghancurkn berbagai pentil radio, televisi, compo, video, memecahkan berbagai gelas, ngerusak putaran kaca mobil, membongkar segala mainannya, bikin boyok emaknya keok karena setiap hari harus beberes bantal guling seperei, selimut yang di ewer-ewer, ngeberesin kembali pakaian yang diawut-awut dari lemari, ruang tamu yang selalu acak-acakan, bahkan wall paper hancur dikletekin….. amit-amit! (Dalam hati selalu bilang: huh gua kepret juga deh nih anak, bandel amat sih ah, dibilangin juga ndableg, mbudeg aja!) Mulai saat ini mulailah dia memasuki fase yng lebih tenang. Ibu guru juga lapor girang, di musim somer itu. Johan (nama beneran Entong) sekarang sudah antengan ya, bisa duduk, mau mendengarkan ibu guru bercerita, kadang ikut nyanyi, dan engga naik-naik lagi. Tapi lucu ya, perkembangannya kok in eens ya? Ngejeblak, 180 derajat.
Ngejeblak 180 derajat (…. Eh ngomong ngomong kalau nulis di millis gini enak juga ya, pakai bahasa sembarangan engga ada yang ngedit…… he he he….) kelihatannya memang benar kata Mönks bahwa perkembangan alamiah anak gifted itu kapasitasnya besar, waktunya singkat, tapi tidak sinkron. Kapasitasnya besar, memang, sekali belajar nyanyi tiba-tiba mampu sampai 40 buah, tapi demen nyanyinya hanya dua mingguan saja, lalu hilang lagi, ganti perkembangan yang lain. Sayangnya engga sinkron dengan berbagai perkembangan lainnya. Satu-satu, kalau yang satu berkembang hebat, yang lainnya ketinggalan. Pinter juga Profesor Mönks ini ya, kok bisa-bisanya menemukan teori macam ini ya? Jangan-jangan dia kecilnya juga tukang ngegratak ya, telat ngomong kali ya? He he he…



Gangguan konsentrasi yang kaitannya dengan masalah informasi lainnya adalah, masalah gangguan pandang ruang, atau dimensi. Konon menurut Greenspan, anak yang tidak kuat dalam pandang ruang, telinganya tidak sampai mbudeg seperti anak autis macam Kees Momma atau anak gifted yang speech deleyed. Anak autis yang tidak suka melakukan observasi macam Kees Momma, memang kadang mempunyai juga gangguan ini. Meski ia mampu bicara tetapi IQ-nya rendah. Begitu juga anak NLD (Nonverbal Learning Disorder), yaitu anak yang tidak mampu membaca bahasa isyarat, tidak mampu menterjemahkan mimik orang apakah itu marah apakah itu senang. Seperti Jaap anak tetangga temannya Entong. Dia 10 tahun, Entong 5 tahun. Tapi Jaap lebih senang bermain dengan Entong, duduk duduk dan bergurau. Tapi jika Entong mulai bermain komputer, dia lari. Walau saya sediakan dua tuts untuk bermain racing, tetapi karena kemampuan pandang ruangnya rendah, dia juga tidak mampu main racing. Ditambah lagi pada anak seperti ini motorisnya terganggu sehingga tidak mampu bermain dengan cepat di atas tuts keyboord. Waktu saya suruh menggambar monyet, dia buat bulat panjang dengan titik dua di ujung atas. Katanya atasnya adalah kepala, bawahnya ekor. Waktu saya tanya Entong, itu apa Tong, Entong bilang poep….. (eeg). Menggambar ayahnya juga hanya bulat lagi, bulat lagi. Mamanya juga bulat lagi, bulat lagi. Tidak ada bentuk orang. Dengan begitu anak-anak yang mengalami gangguan ini, disuruh ngitung juga sulit sekali. Ngingat-ngingat juga lupa, tapi kalau ngenyel ya panjang lebar juga. Tetapi rangkaian apa yang diceritakan logikanya seringkali amburadul.



Gangguan konsentrasi lainnya selain gangguan proses auditif-verbal,dan kemampuan dimensi, adalah gangguan konsentrasi pada tonus motoris, motoris programing dan kemampuan perseptif motoris.

Gangguan konsentrasi yang berakibat pada tonus motoris.
Otot-otot motorik atau otot penggerak, pada anak gifted umumnya tonusnya kuat sekali. Perut dan betisnya jika dipegang keras sekali. Sebelum fase jumpalitannya nongol yang membuat heboh para pengasuhnya itu , dari bayinya anak gifted juga sudah banyak bergerak. Pada usia yang sangat dini dia bisa menggeser-geserkan badan, kepalanya cepat mengangkat ke atas, tangannya terus bergerak, dan kakinya bergerak tidak pernah selesai. Motorisnya memang hebat. Karena kuat tonus ototnyalah menyebabkan ia cepat membalikkan badan, merangkak, dan berdiri. Waktu merangkak merangkaknya macam bunyi kapal perang, kedabruk…. Kedabruk…..kedabruk! Kehebatan motoriknya bisa diamati, waktu lahir saja sudah punya refleks mbrangkang. Lucu dia, kalau habis dimandiin, dibedakin punggungnya, lalu dibalik….. dengan serentak kaki dan tangannya ketawilan mbrangkang. Tentu saja belum kuat, jadi emaknya yang ngangkat, lalu kaki dan tangannya merangkak-rangkak. Waktu dia sudah mulai mbrangkangan kemana-mana, dia suka njumputin barang yang kecil-kecil dilantai, seperti rambut, remah-remah, semut…… dan segala barang kecil lainnya. Sambil njumputin, hup….. masuk mulut, cepat setengah mati. Waktu masa ini, saya selalu nonton faecesnya si Entong, isinya macam-macam, ada rambut, sepotong kecil karet gelang, pentil jagung…… Gila dia, makan yang engga-engga. Konon kemampuan menjepit barang kecil ini adalah juga kemampuan sempurnanya motoriknya. Tapi herannya waktu dia mengembangkan motorik kasarnya, saat dia mempunyai kehebatan koprol, loncat tinggi, main salto, dan sebagainya, si motorik halusnya ketinggalan jaman. Tangannya macam engga kuat buat megang potlot yang benar sekalipun. Ini problem yang umum dialami oleh hampir semua anak gifted yang pentalitannya hebat. Tidak diketahui lagi mana yang bisa diunggulkan untuk menulis. Kiri atau kanan. Bahkan kalau disuruh memegang potlot dia genggam macam menggemgam gagang sapu. Membuat gambar oretan dengan potlot digenggam erat. Jarinya kaku. Telapakannya lemas. Apalagi disuruh menggunting kertas, sulit sekali. Jika melihat gangguan ini nampak ia bagai anak yang memang mengalami gangguan perkembangan motorik yang disebabkan oleh gangguan perkembangan otak. Tetapi sebetulnya karena ekses dari pola perkembangannya yang tidak sinkron saja. Masalah ini kelak membawa problem tersendiri pada waktu sekolah. Dia tidak mau menggambar dan menulis. Terlebih anak gifted mempunyai sifat yang perfeksionist, dan selalu mempunyai konsep di kepalanya, maka jika hasil karyanya dirasa tidak sesuai dengan konsepnya, dia mengalami gerak mundur. Tidak mau lagi menulis dan menggambar. Ditambah lagi dengan sifatnya yang memang selalu takut salah. Itulah yang menyebabkan dia menjadi underprestasi di kelas-kelas satu dan dua SD. Dia juga tidak akan bisa menulis dan membaca, yang kemudian seringkali disangka dyslexia, lalu mendapat perawatan macam anak yang rendah kecerdasannya dan dyslexia. Padahal anak gifted selalu mempunyai dorongan-dorongan untuk mengembangkan inteligensianya. Dengan adanya masalah ini membawa dampak pada jatuhnya dirinya pada masalah psikologis yang berpangkal dari kefrustrasian, dan berujung pada perilakunya yang menjadi brutal dan hyperaktif.
Begitu juga pada anak autis yang macam Kees Momma, ia maunya apa-apa perfek. Di kepalanya sudah ada konsep, tetapi jika hasilnya ternyata mengecewakan, dan kecewa lagi, lalu selalu menarik mundur, dan sulit diajak maju kembali. Ini persamaannya dengan anak gifted.

Saya melihat seorang bayi, yang ternyata besarnya memang autis yang diusianya empat tahun selama berbulan bulan mengalami konstipasi berat, b.a.b. satu minggu sekali, bayi ini hanya diam diam saja di dalam boxnya. Dia nampak bagai anak manis. Jika di dudukkan di maxicosi, bapaknya bilang, macam direktur. Diam, anteng tak banyak gerak. Nayatanya memang dia memiliki tonus otot yang lemah, begitu pula ususnya sampai indolen, gerak peristaltiknya tidak begitu normal. Kalau lari bersama juga dia selalu ketinggalan. Bila kemana-mana cepat cape. Beberapa buku menjelaskan bahwa perbedaan ini disebabkan pekerjaan sel order yang menginstruksikan sistem neuromuskular, bekerja cepat atau lambat. (Sel order ini payah juga, dia kerja macam provokator aja…..).

Sedang si Jaap yang NLD, gangguan motoriknya memang nampak di motorik kasar maupun halus. Sampai besar dia belum bisa naik sepeda, tidak berani berenang, tidak bisa naik pohon, tidak jumpalitan naik kemana-mana, tidak bisa koprol, kalau lari tangannya menggapai-gapai. Sedang terhadap motorik halusnya sampai usia 10 tahun sekarang ini, di sekolahnya, dia masih menerima terapi gerak. Dan koordinasi motoriknya juga amburadul, dia sering memecahkan barang secara tidak sengaja. Anak NLD memang mempunyai gangguan perkembangan di otak pusat pengatur motorik.


Motoris programing.
Yang dimaksud motoris programing adalah bekerjanya secara simultan beberapa otot dan bentuk perintah sehingga menghasilkan gerak, misalnya pengerjaan perintah mengancing baju, makan, jalan ke sekolah, dan sebagainya. Pada anak-anak yang mengalami gangguan konsentrasi, pada saat harus mengerjakan tugasnya,dia SELALU NYASAR KE KEGIATAN LAIN. Bentuk gangguan ini
yang paling sering terlihat pada anak-anak. Hampir semua anak mengalami ini, tetapi kapasitasnya berbeda-beda. Anak ADHD, ADD, gifted, dan autis juga mengalaminya. Pernah lihat anak-anak yang kalau makan sambil ngeceh-ngeceh makanan akhirnya makannya engga jadi, karena makanannya kepalangan bonyok duluan? Pasti sering. Gangguan inilah yang paling saya sebelin. Dan anehnya dalam setiap perkembangan apapun, gangguan ini demennya selalu nguntit di kegiatan makan. Perkembangan apapun selalu intervensi di kegiatan makan. Akhirnya karena makannya terganggu terus, si Entong anakku itu badannya kerempeng setengah mati. Waktu bayinya sih dia makan baik sekali, makanya gendut. Hap…. Hap….. cepat dan rakus. Waktu dia senang main mbantingin barang, membuat bunyi gaduh kelontangan, waktu itu umurnya sekitar satu tahun lebih. Saya mulai kesulitan memberinya makan. Selalu kesulitan. Rasanya putus asa. Sehari-harinya jika memberi makan acaranya begini: Dia saya dudukkan di kursinya, pakai seat belt. Seat belt ini penting,kalau tidak pasti dia loncat, merosot, dan lari kemana-mana. Di mejanya saya sediakan banyak mainan, dan selalu diganti kalau sudah bosan membanting yang satu. Makanan tidak saya taruh di
mejanya, karena bisa jadi sasaran bantingannya. Saya berlomba antara konsentrasinya saat dia membanting mainan dan menyuapkan makanan. Di antara dua termin bantingan saat dia repot nyari mainan lain dengan bentuk lain dan suara gaduh lain, tangannya menggapai gapai mencari mainan, pasti dia tidak mau disuap.
Waktu dia mulai bisa membuat bola, nasi dan segala makanan lainnya pasti jadi bola. Waktu dia bisa bikin rel kereta, frens fris atau kentang goreng mainan yang paling canggih untuk menyusun rel kereta, lalu dilintas lindas dengan worst. Akhirnya makannya tidak jadi, karena sudah dingin semua. Dibilangin ndableg, dan mbudeg. Begitu lagi, begitu lagi. Terussssssss……….. semua perkembangan sasarannya acara makan. Sampai terakhir, waktu dia sudah sedang belajar memecahkan persoalan, membuat altrnatif, sasarannya juga makanan. Rupanya barangkali kegiatan makan itu laboratorium eksperimennya yang selalu bisa ditemuinya setiap hari. Padalah ngganggu aja seeehhhhhh……
Waktu dia mulai bisa menginginkan alternatif lain, setiap diberi makanan, sambil ngelongok ke piringnya, otomatis mulutnya mangap: Ik wil anders hebben! (Saya mau yang lain!). Dua minggu bosen sudah dia dengan kebiasaan begini, dia mulai lagi dengan gaya yang lain. Jika diberi lumpia kecil, otomatis dia bilang : Ik wil grote lumpia hebben ! (saya mau lumpia yang besar). Dikasih yang merah, dia minta yang hijau…… terusssssss saja tiap hari. Begitu lagi, begitu lagi……Sampai dia bosan, lalu muncul yang baru, dia membuat alternatif dengan lima macam makanan. Menyebut satu makanan dulu, lalu minta yang lain, lalu minta yang lain lagi, sampai lima, lalu semua makanan sudah didepan matanya, lalu dia analisa, yang satu lebih besar, yang satu persegi yang satu bulat, yang satu asin yang satu manis, dan lain-lain seterusnya, panjang lebar, lalu coba satu dicampur dengan yang lainnya, yang asin dengan yang manis, dicoba rasanya apa, panjang lebar dan seterusnya, eksperimen selesai…… lalu teriak: Mama…… ik ben klaaaarrrrrr! (saya selesaiiiiiiiii)………… terus lari engga jadi makan. Huh….. nyebelin banget!
Dulu juga pernah begitu, kalau terima makanan, diobservasi dulu, diputar-putar, dicolek-colek, digoyang-goyang, diendus-endus, dijilat-jilat dikit…… kalau kira-kira layak dimakan, baru dimakan…….! Resek banget! Dan makannya, itu lagi, itu lagi, begitu lagi begitu lagi…..njelehi!



Gangguan perseptif-motoris


Yang dimaksud adalah, suatu gerak atau kegiatan yang diatur oleh impuls dari otak ke otot-otot penggerak untuk melaksanakan tugas guna mewujudkan gambaran atau suatu konsep yang ada di kepala. Misalnya seseorang ingin menggambar ayam, ia membuat persepsi dalam otak, bahwa ayam itu punya kepala, punya leher, punya badan, punya kaki, punya buntut, punya jalu, ada jenggernya, ada paruhnya dan sebagainya. Kumpulan impuls ini lalu dikirim ke jari-jari untuk melukiskannya. Namun dalam kenyataannya, berbagai gangguan bisa terjadi, sehingga apa yang diinginkan tidak terbentuk.
Gangguan pada pelaksanaan menggambar ayam yang ternyata tidak sesuai dengan gambaran yang ada di kepala bisa disebabkan karena koordinasi gerakan memang tidak baik, atau juga karena motorik halusnya “tidur” (ini terjemahan langsung dari bahasa Belanda, katanya slaapt, yang artinya tidur, padahal maksudnya lemah…….bahasa Belanda ini memang suka bohong!). Kondisi seperti ini bisa disebabkan karena adanya gangguan di otak pada lobus pengatur gerak. Seringkali menyertai anak-anak yang mempunyai gangguan perkembangan dan pertumbuhan otak. ADHD, ADD, Autis, NLD, LD, epilepsi dan berbagai minor brain damage lainnya, seringkali disertai juga dengan gangguan motorik, baik motorik kasar, maupun motorik halusnya. Gangguannya baik berupa gangguan keseimbangan, koordinasi, pola gerak, kekuatan tonus, dan sebagainya. Makanya dokter demen banget nyuruh pasien anak jongkok diri, jongkok diri, nyepak kiri, nyepak kanan, lompat, jingkek, main kapal terbang dan sebagainya jika sedang memeriksa perkembangan anak.
Jika gangguan perseptif-motoris itu memang disebabkan karena gangguan anatomisnya, akibat dari adanya cacat di pusat pengatur gerak, kita bisa maklum, andai ternyata ayam yang jadi tidak berupa ayam. Padahal di kepalanya sudah berkumai-kumai ayam melambai-lambai pakai jengger merah, dan jalu. Lain halnya kalau dia itu seperti Jaap, penyandang NLD yang mengalami gangguan ketidak mampuan memakna bahasa isyarat, sekaligus mengalami gangguan pandang ruang. Perintah ibu guru menggambar ayam, jadinya bunder lagi, bunder lagi…….! Padahal sudah jelas-jelas yang terpampang di depan kelas ayam beneran yang sengaja di beli oleh ibu guru di pasar ayam Bogor deket rumah Bu Tri Permata Dewi. Ayam cinde laras berjengger merah dan berjalu. Mana ayamnya sudah mau lagi tengak tenguk ngejentul di di atas meja sebagai objek lukis anak-anak. Gambarnya si Jaap yang jadinya cuma bunder lagi, bunder lagi itu, bukan salah tangannya tidak mau menjalankan persepsi seperti yang diharapkan sebagaimana anak normal. Karena memang dia tidak mampu menuangkan gambar ayam karena yang terkumai diotak samar-samar. Dia kurang ingat dimana ada jalu, dan dimana letak jengger. Kecilnya Jaap, saya ingat sekali, kalau pagi dia lari-lari kejalan, setiap pagi stemmingnya memang begitu, nangisssssss melulu. Susah dibilangin tapi gak nggratak. Karena juklak nggratak memang tidak ada, seperti Odi, anaknya Bu Dewi itu juklak nggrataknya kebanyakan. Makanya Jaap gak punya pengalaman banyak nonton berbagai bentuk dan berbagai fenomena alam. Lalu pengiriman persepsi yang disalurkan ke tangan jadinya engga lengkap. Masak ayam cuma bunder aja, cuma satu bunder, padahal bundernya paling sedikit ada dua, badan dan kepalanya, lalu disambung leher, lalu ada kaki dua, paling engga kakinya njabrik. Biasa kan anak kecil kalau nggambar kaki, kakinya njabrik kaya sapu lidi rusak. Makin sedikit jumlah potongan yang digambarkan artinya memang kemampuan dimensinya sangat minim.
Makin baik kemampuan dimensinya makin baik pula persepsinya, dan makin lengkap pula gambarnya. Tapi jika ternyata anak itu mempunyai gangguan pada motorik halusnya, meski di kepalanya sudah berkumai bagaimana bentuk ayam itu, malahan masih ingat bagaimana ayam itu kalau lagi ganjen sama babon, sayapnya satu disengklehin ke bawah, lehernya dibesar-besarin, sambil kepalanya miring-miring muter-muter ngelilingin si babon, persis kaya Mokamat lagi ngiterin Merijke, sambil kakinya dihentak-hentakin ke tanah. Kroook….kroookkk……gitu bunyinya. Nah di kepala niatnya mau nggambar yang gitu, tapi waktu tangan di gerak-gerakin eh……….engga mau ngerjain yang bener. Maksud hati mau bikin bunder, jadinya malah macam kaya pisang goreng, mencong-mencong pula. Nangis deh……………. Uhuk uhuk uhuk…… tanganku kurang jinakkkkkkkk…….. katanya.
Gangguan seperti tadi memang sering terjadi pada anak-anak yang mempunyai gangguan perilaku, entah judul gangguannya apa. Tetapi yang membuat gundah adalah, andai anak-anak ini sudah mempunyai konsep di kepalanya, terutama pada anak-anak yang mempunyai fotografis memori.
Anak fotografis memori, baik anak gifted maupun anak autis, yang di usia dininya sering mengalami gangguan tonus otot, sehingga apa yang disampaikan oleh kepala ke tangan menjadi berbeda hasilnya, akan membuat mereka mengalami kekecewaan. Seringkali konon kata buku Kinderen met leer en gedragsproblemen ( Anak-anak dengan gangguan belajar dan problem perilaku) yang ditulis oleh Roel de Groot en Cees Paagman (tahun 2000), bahwa gangguan prestasi belajar anak-anak itu sering berawal dari sini. Karena itu perlu diperhatikan, bahwa kekecewaan anak-anak ini akan membawa dampak merosotnya motivasi internal, yang berakhir pada tidak mau lagi menggambar. Atau menulis huruf-huruf, akhirnya tidak bisa juga membaca. Disangkanya dyslexia, gangguan pusat penglihatan, yang menyebabkan anak tidak mampu mengenali bentuk huruf.
Anak gifted dan anak autis tipe Kees Momma memang perfeksionist, apa-apanya maunya persis. Dan selalu menjaga apa-apanya harus tetap baik sebagaimana adanya. Karenanya disuruh mewarnai berbagai figur dengan potlod kelir, pasti tidak mau. Pastiiiiiiiii deh, pasti tidak mau, karena pernah dia mencoba lalu ternyata hasilnya jelek tidak seperti contoh di sebelahnya (biasanya kan buku mewarnai disebelahnya ada contohnya yang dicetak dari pabrik). Karenanya sampai umur SD kelas I dan II anak-anak itu seringkali nggambarnya ampleng-amplengan. Kadang mau kadang engga. Lebih sering dapat judul sebagai catatan ibu guru, di bawah hasil menggambarnya: dibantu, dikerjain ibu guru, ditolong temannya, diberesin sobatnya, dan lain-lain. Padahal kalau sering sering nggambar, motorik halusnya akan semakin baik. Buat anak gifted yang tenaganya kuat tapi tangannya macam sengkleh itu, lemes gak bener megang potlod, setelah perkembangan motorik kasarnya selesai, perkembangan motorik halusnya memang segera akan menysusul. Tetapi anak autis yang seperti Kees Momma dan anak anak yang bermasalah lainnya memang membutuhkan bantuan. Saya nonton pekerjaannya Jaap di sekolahnya, special onderwijs, atau SLB. Seminggu beberapa kali menerima terapi gerak. Pekerjaannya macam macam. Mulai dari menggunting-gunting; menusuk-nusuk karton dengan alat semacam bolpen tumpul yang kemudian dibuat berbagai macam figur; menjahit di karton dengan berbagai macam figur juga ada yang macam memberi bingkai foto, ada yang macam menyulam bunga,; memelintir benang menjadi tali. Kalau bosan yang rumit-rumit begitu, si Jaap oleh bapaknya dibelikan mainan Knex, yaitu berbagai bentuk yang macam batang bisa dirangkai dan disambung menjadi rumah, mobil, terserah mau bikin apa. Tapi karena Jaap tidak punya kemampuan dimensi, jadinya disambung-sambung jadi panjang aja, panjang lagi, panjang lagi, begitu aja setiap hari. Tapi engga apa, maksudnya memang supaya Jaap menggunakan tangan dan jari-jarinya. Atau menggunakan lego yang kecil-kecil. Yang kecil ini cocok untuk anak-anak seperti ini, supaya jari-jarinya bermain.
Suatu kali saya lihat, di sebuah sekolah dasar, anak-anak yang mengalami gangguan motorik halus ini, yang tulisannya jelek banget (terapinya bukan dipaksain supaya tiap sore ngerjain PR disuruh nulis), setiap hari diajak main olah raga jari. Sambil duduk sila, mereka mengepal-ngepalkan lalu membuka lagi, mengepal lagi, membuka lagi…. Begitu, kedua telapak tangannya atau bergantian. Selain melatih tonusnya, juga melatih koordinasinya.


Cerita bab ini sampai sini saja. Besok saya mau ke Nijmegen dulu. Jadi sekitar empat lima hari lagi, saya teruskan lagi dengan cerita lainnya, tentang fotografis memori, yang merupakan sumber perkara, perlu dituduh, lalu kita periksa baik-baik. Kenapa fotografis memori ini membuat pusing kepala emak dan bapaknya.


. FOTOGRAFIS MEMORI (bag.I)
(Autis vs Gifted)

Di suatu pesta di gereja tua di Alkmaar yang berubah fungsinya jadi tempat pertemuan umum, saya dan suami berjumpa lagi dengan drs. Pim van de Pol, othopedagog kandidat profesor dari Universitas Leiden, orang yang menemukan bahwa si Entong memiliki fotografis memori. Sekali lagi dia menekankan, hati-hati ya, perhatikan anakmu. Dia mempunyai fotografis memori. Hanya dua jenis anak yang mempunyai ini, anak autis yang macam Kees Momma, atau anak gifted. Coba deh, periksa yang betul sekali lagi, barangkali dia mempunyai perkembangan pervasive. Karena perilakunya kok begitu, jelas dipengaruhi oleh fotografis memorinya itu. Tapi dia angkat bahu lagi, tapi engga tau ding ya, karena umurnya baru tiga tahunan. Semua masih bisa berkembang, katanya. Barangkali pola perkembangannya memang begitu. Kalau umur empat tahun, nah bisa jadi memang dia autis. Ternyata di dalam bukunya Greenspan yang berjudul The Challenging Child memang dijelaskan. Jika anak umur empat tahun, mempunyai perilaku yang masih aneh, kemungkinan memang dia mempunyai kelainan yang patologis. Maksud Pim untuk menyatakan bahwa si Entong autis, memang jangan cepet-cepet, walau gejala ada, tapi belum tentu. Karena sepuluh persen dari anak normal, memang mempunyai gejala begitu. Itu juga bisa dilihat dari gambaran EEG, kadang ada gambaran EEG yang menyimpang, tapi anak itu tidak mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak. Dalam scanning otak juga tidak terlihat adanya kelainan. Tapi bukan berarti lalu, kalau kondisi begini dinamai autis, bukan, begitu kata Pim, pada saya. Apalagi kalau diteliti lebih lanjut berbagai-bagainya, banyak hal ternyata yang membedakannya.

Tidak lama dari itu sekali lagi Pim van de Pol melalui telepon, ngudak-ngudak kita supaya membawanya ke psikolog anak balita. Karena Pim van de Pol adalah seorang orthopedagog anak balita, jelas pendekatannya adalah masalah pedagogiknya , yaitu pedekatan masalah perkembangan inteligensia yang mempengaruhi perilaku. Waktu saya kembali ke dokter anak, dia melakukan pendekatan perkembangan secara biologis. Tetapi karena secara biologis, gejalanya tidak menunjukkan gangguan, jadi masalah si Entong ini termasuk aneh. Keanehan yang dimaksud adalah, benar secara psikologis dia mempunyai kelakuan aneh, tetapi dia tidak mempunyai gangguan motorik, hal yang biasa menyertai anak-anak autis, bahkan motoriknya baik sekali. Terlihat juga dari pengucapan kata-kata yang pernah dia ucapkan sebelum dia mbisu. Tidak ada gangguan pada otot pengucapan. Satu hal ini saja jelas sudah. Hal lain adalah, sebelum masa membisu dan mbudeg itu, ia mampu berbagi kasih dengan saya, dia memiliki emosi. Artinya waktu di dalam boks, kalau saya datang dia cengar-cengir. Waktu dia sudah besar, kalau saya pura-pura nangis, dia ciumi saya. Dan dia bisa nangis kalau mendengar lagu sedih, atau joget mendengar lagu girang. Dia juga bisa nangis kalau melihat anak lain nangis sebagai ungkapan rasa empatinya. Tapi anak autis kalau melihat anak lain menangis lalu ikut menangis, itu bukan ungkapan empatinya. Tetapi pada dasarnya anak autis adalah anak yang INTROVERT, ia adalah anak yang penyedih. Pada anak anak autis yang suka ikut menangisi temannya itu seringkali terdapat pada anak autis yang perkembangan longterm memorynya tinggi tapi tidak kreatif. Dia hanya mampu mengikuti apa yang dia lihat, atau orang lain bicarakan, seperti membeo. Sehingga melihat anak menangis, ya dia ikut menangis. Itu tingkat kemampuan inteligensianya. Begitu setidaknya yang dijelaskan Greenspan yang profesor bidang psikologi dan sekaligus psikiater, yang selalu menjadi direktur institut autis di Washington.

Buku terbarunya yang diterbitkan tahun 2000 berjudul Building Healthy Minds, menggambarkan, bahwa anak-anak autis adalah anak yang penyedih, mudah marah, selalu merasa menderita, dan minderan, serta takut-takut. Kalau ada anak autis suka nyiumin ibunya ya artinya jelas dia bukan autis. Kali kali aja keliru diagnosa. Paling gampang mah ngeliatnya, kalau tuh anak diklitikin perutnya terusnya dia cekikikan, nah udah jelas kaga autis. Pan si Entong juga waktu diperiksa psikolog, diajak main tak umpet, si Entongnya ngakak-ngakak, ya udah, emang bukan autis.

Balik lagi ke soal fotografis memory. Apa yang disebut fotografis memory adalah kemampuan seseorang melakukan waarneming atau pencanderaan fenomena alam secara begitu intensnya sehingga ia mampu mengingatnya secara detil apa yang pernah dilihatnya, dan seringkali juga ia mampu menyalurkan persepsi apa yang dilihatnya itu secara detil ke atas kertas. Si Entong waktu umur tiga setengah tahun menggambar banyaaaaakkkkkkkk sekali, ada kuda ya kaya kuda, ada sapi ya kok bentuknya kaya sapi, dia bisa membedakan gambar anjing laut dengan fliper, bisa membedakan burung dengan bebek. Semua kebetulan gambarnya bisa saya kumpulkan lalu saya laporkan Prof. Mönks. Sambil nuding-nuding saya, Prof. Mönks yang ngomongnya nyerosos cepet banget dan yang orangnya rada pendek ini bilang, hmh…… si Johan ini bener-bener perfeksionist ya, gambarannya semua betul-betul fotografis. Makanya kelakuannya gitu…….! Maksudnya aneh kaya autis. Sekali lagi dia bilang, antara autis dan gifted itu memang satu garis, tapi ada titik pembatasnya. Begitu juga dulu yang dibilang Pim van de Pol, bahwa kiri punya Kees Momma dan kanan punya Entong. Titik itulah yang membedakan satu ke arah mana, dan satu lagi ke arah mana.

Kapan anak mulai melakukan waarneming atau pencanderaan lalu menghasilkan fotografis memory? Rupanya bukan hanya pada usia sekitar 1,5 tahun saja. Umumnya sih umur satu setengah tahun. Waktu motoriknya sudah berkembang, dia bisa lari dan nggratak sebagai juklak pencanderaan.. Tapi ada juga anak yang waarnemingnya dimulai sudah sejak bayiiiiiii sekali. Dia suka nontonin langit-langit, kalau dipanggil kerjanya cuma nontonin barang yang bergerak di mukanya, misalnya tangan emaknya, bukan muka emaknya. Jadi macam anak ini tidak merespon. Kalau ngelihat yang begininya ya kaya autis, tapi entar dulu, dia punya emosi engga. Itu yang membedakan apakah dia autis atau dia gifted. Teori kuno, sebelum temuan Mönks dan Greenspan dikemukakan (cilakanya waktu kedua temuan ini belakangan, sesudah American Psychiatriy Assosiation menelorkan DSM IV yang jadi manual diagnosa autis dan dipakai oleh seluruh dunia) memang mengemukakan bahwa autis sering ditemukan di sekitar anak usia 2 tahun. Baca deh misalnya Synopsis of Pediatric tulisan-tulisan tentang pediatri yang dikumpulkan oleh James G Hugehes BA MD tahun 1971. Buku ini yang saya pakai waktu kerja di Puskesmas dulu. Tapi kok belakangan Greenspan engga lagi nyosor-nyosor usia ini ya?Dia lebih menekankan pada bagaimana mendiagnosa yang setepat-tepatnya dengan pendekatan baik neurologis psikiatiaris dan psikologis. Dan kriteria perkembangan yang acak-acakan macam Entong itu oleh DSM IV dimasukkan dalam gangguan perkembangan perpasive
. Tapi ya tetep aja dikasih judul Autis spectrum disorder. Kalau autis, prosedur pengobatannya ya harus pakai obat-obatan, jadinyalah anak anak ini toh harus juga menelan berbagai obat. Itu kalau mau telek-telek menelan judul kriteria, karena toh ternyata di dalamnya dijelaskan lebih detil gejala autis itu bagaimana. Artinya juga kalau mau mengikuti DSM IV baik-baik diagnosanya juga bisa agak-agak bener gitu. Tapi kan juga harus punya pengetahuan benerannya dulu. Lebih halus lagi kalau menggunakan rating scale, rating scalenya ada berbagai macam. Itu mah urusan psikolog, aye kaga jelas.
Masak kalau speech delayed aja lalu dibilang autis…….. ya engga deh. Sapa tuh yang nggosip gitu……. Kasian rakyat eey…..bisa kalang kabut denger anak telat ngomong = autis. Jangan jangan entar kalau pegi ke psikolog minta diagnosa autis, barang di test pake rating scale, menunjukkan anak normal, lalu kata si psikolog : Bu anak ibu bukan autis……… ee…….. bisa bisa…. Tuh psikolog dibilang engga bonafid deh. Kasiaannnnnnnnn……… tuh psikolog.

Saya punya buku yang baru saya beli minggu lalu, sebelum saya pergi ke Nijmegen. Buku ini bisa memberikan ilustrasi situasi di atas. Bukunya berjudul Autisme en Thuis Behandeling (Perawatan Autis di Rumah) tulisan I.A van Berkelaer-Onnes dan J.J.C. Kwakkel-Scheffer. Diterbitkan tahun 1988. Kedua orang ini orthopedagog yang satu dari Universitas Leiden, yang satu dari Universitas Groningen. Di buku itu menceritakan bagaimana prosedur menangani anak-anak autis itu. Pertama katanya, dia harus masuk Pusat Penelitian Autisme atas surat konsul dari Psikolog (bisa sampai ke psikolog karena dikirim dokter keluarga, urusannya bisa sampai dokter keluarga karena dilapor oleh dokter anak di konsultasi biro semacam BKIA di Indonesia).

Ringkas kata, pasien-pasien autis yang membutuhkan latihan-latihan perilaku, dibantu oleh para orthopedagog yang mensepsialisasikan diri dibidang terapi autis memang. Biasanya dikerjakan oleh mahasiswa-mahasiswa yang sedang praktek kerja dibawah bimbingan supervisornya. Nah dalam cerita itu dilaporkan tentang bagaimana bimbingan itu dikerjakan.

Tapi entar dulu diselak dulu, tapi kenapa harus liwat psikolog segala? Itu memang prosedurnya begitu, karena dari psikologlah anak ini bisa dinyatakan mempunyai penyimpangan perilaku yang patologis apa engga? Kalau dalam rating scale ternyata masih dalam batas normal, ya sudah berenti di psikolog, artinya masalahnya kelakuan yang aneh itu masalah psikologis saja, bukan gangguan perkembangan atau cacat di otak. Kalau kasusnya Entong, kebetulan aja karena kenal Pim, dia utek-tek dengan komputernya sendiri, terus dia kasih hasilnya. Tapi toh dia ngudak-ngudak kita supaya liwat prosedur. Tapi udah kepalangan di kirim ke Nijmegen, barang mau dibawa ke psikolog distrik eh si psikolognya bilang, kalau gitu tunggu dulu deh hasil dari Nijmegen toh disana juga ada psikolog. Jadi gitu meski Entong lagunya macam anak autis, tapi karena dokter anaknya bisa melihat ini mah kaya-kaya autis tapi meragukan, kali aja emang bukan autis……… ya dikirim aja ke Nijmegen. Ah repot amat sih cerita ginian doang aja……. Au alap….. yang repot diurusin.

Cerita lanjut,
Sebelum berangkat para mahasiswa di training dulu, tentang apa yang harus dikerjakan yaitu:
Meningkatkan kondisi ke arah jalur normal, mengurangi kekakuan, menghilangkan sedapat mungkin problem perilaku yang menyertai autis (seperti hiperaktifitas dan masalah kesulitan tidur), serta mem
berikan penerangan pada orang tua dan anggota keluarga tentang kemungkinan yang resek resek yang bakal terjadi di rumah itu.

Lalu berangkatlah dua mahasiswa itu ke satu alamat.

Adalah seorang anak bernama Wim yang oleh Yayasan Autisma Roterdam didiagnosa autis. Wim anak bungsu dari tiga bersaudara. Karena kecurigaan emaknya pada Wim kenapa nih anak anteng mulu, di usia 1,5 tahun dibawa ke dokter, sampailah dia ke psikiater itu. Diagnosanya autis infantil. Mulanya si emak karena suka denger-denger cerita tentang autis, terus dia mulai curiga, kenapa si Wim bayi senengnya mandangin lampuuuuuuuu aja. Selalu nonton lampu melulu atau cahaya terang (nginget-nginget si Entong dulu juga kerjanya ngeliatin jendela mulu sampe palanya peyang sebelah, terus bolak balik tuh kepala dibalik, kadang tempat kaki jadi tempat kepala, besoknya tempat kepala jadi tempat kaki, maksudya biar engga peyang aja). Kalau si emak manggil-manggil pake tangan dan jari di lambai-lambai, yang dilihat cuma tangannya, muka emaknya engga. Lalu waktu pemeriksaan telinga oleh dokter, beneran engga bisa. Dokter mengira dia rada budeg. Tapi ibunya yakin bahwa si Wim ini engga budeg, karena suka kalau ada suara suara, dia ndenger kok, tapi anehnya kalau suaranya disengajain supaya dia denger dia engga ngasih respons. Matanya sih tajam ngeliat barang lain, tapi engga mau ngeliat orang. Bingung engga tuh?
Waktu sudah agak besaran dikit, dia mulai bisa ngayap, kerjanya njumputin debu, ngorekin jok tempat duduk, nyabutin barang-barang kecil-kecil, begituuuuuu aja kerjanya berjam-jam. Kalau jalan jinjit-jinjit, tapak kakinya gelian sama lantai.Kalau mau digendong nolak, badannya segera dikencengin seperti papan. Satu-satunya yang bisa dekat dengan dia hanya ibunya. Dengan ibunya dia masih mau dipangku-pangku, dan diberi makan. Tapi makan dengan orang lain jangan harap. Lagian dia punya perilaku yang aneh, yaitu makannya hanya satu macam saja, yang lembek-lembek jijik, pakai gelas itu lagi itu lagi. Engga boleh diganti. (Gejala yang ini persis juga macam Entong kecilannya, sampai sekarang juga kalau makan di restorant engga mau, dan kalau ada tamu dia engga bakalan makan).
Waktu anak lain sudah pada nyerocos ngomong, si Wim cuma ngeluarkan bunyi kuluk kuluk kuluk kuluk……. Atau suara-suara lain. Mulai saat anak lain mulai ngomong, si Wim malah sakitan, kalau engga pilek-pilek, batuk sampai brochitis. Selain makannya susah, jenis apa engga mau nelen, selain jijik, pokoknya engga mau. Jadi badan nih anak kerempeng setengah mati.
Dia juga engga bisa main yang bener. Kalau dikasih mainan bukan dikerjain sebagaimana mengerjakan mainan itu, tapi cuma melintirin roda mobil supaya muter, gituuuuuuuu aja.
Tapi anehnya motoriknya hebat banget, maju pesat. Dia pecicilan dan pencilaan. Naik-naik ke atas meja kursi dan lemari. Kalau lalarian dan manjat-manjat engga pernah jatuh. Keseimbangannya hebat. Dan bandel bengalnya engga ketulungan. Kalau temen empoknya datang, mainannya segera disambarin oleh si Wim. (Baca gini inget dulu waktu liburan ke Malang, sepupu saya punya anak enam, yang dua masih balita ditambah anak saudara yang
lain jadi ada sekitar 6 anak kecil. Si Entong 2,5 tahunan pecicilan aja, kalau anak lain main apa aja, pasti disambar dengan cepat oleh Entong, diminta lagi mana boleh. Dan mainan itu palingan cuma dijejerin lagi, dijejerin lagi, engga boleh di rubah, seharian dia cuma main begituan. Kerja si Entong waktu itu cuma lariiiiiiiii aja muterin rumah. Muterin meja, muter lagi, muter lagi, disuruh berenti juga engga mau. Ketawa engga, marah engga. Lari muter diaaammmmmmm aja). Si Wim juga begitu lari muter-muter. Dalam cerita itu, si Wim waktu suka lari gini engga suka ketawa. Seriussssss banget. Kalau udah begini bawaan mbudegnya lebih hebat.
Selain motoris kasarnya baik, motoris halusnya juga baik sekali. Dia pinter memegang pinsil dan menggambar.

Inget si Entong dulu waktu umur 2,5 an kalau di bawa ke supermarket, dia maunya ndorong kereta belanja yang kecil, aduuuhhhhhh……. Dia lari kemana-mana engga mau diatur. Seriusssss banget, mana cepet kaya uler. Emaknya tepontal pontal di belakang. Engga jadi belanja deh, karena terpaksa harus bawa dia pulang dalam keadaan ngamuk-ngamuk hebaaaaaaaattt. Waktu di Tunjungan Plasa Surabaya, saya bawa tantenya sampai tiga orang untuk jaga dia. Karena waktu dia lihat tangga jalan, waduuuuuhhhhh…….. engga bisa dilarang, sepupu saya yang Dekan Fakultas tehnik Kimia di UPN Surabaya sampai mbarangkangan gara-gara cuma ngejerin nih si bengal. Keruan aja orang pada nonton.Entah ada mahasiswanya yang ikut nonton ibu dekannya mbrangkang apa engga, engga tau saya, karena penontonnya engga diabsen. Waktu liburan kemaren ke Jakarta, dia lihat si Entong, bingung lho…… kok sembuh? Malahan waktu ke bapaknya Ayu, saudara yang dokter anak, cepet cepet diambilin stetoskop, jangan jangan nih anak sakit, kok diemmmmm aja, kalem banget. Kalem, engga mau ngomong karena bibirnya digigit nyamuk jadi bengkak gedeeeee banget. Dia alergi dengan gigitan nyamuk. Di gigit di mata sampai bengkak seperti digigit tawon.

Balik lagi ke Wim,
Soal kontak dengan orang juga sulit. Belajar kontak dengan para terapisnya membutuhkan kesadaran…… eh kesabaran maksudnya. Karena si Wim ini selain maunya merosot dan ngelengos pergi, engga bisa diajak duduk bareng. Tapi pelatihnya sih puas juga, karena si Wim masih mau kalau diajak salaman dan pegang-pegang tangan. Lama-lama mau juga main sama-sama. Engga ngelak-ngelak lagi. Tapi perkembangan emosi yang baik ini ternyata suatu kali hancur tiba-tiba, si Wim jadi penakut yang sangat hebat, dan engga mau dibawa ke sekolah play grupnya. Engga mau ketemu orang, dan takutan.

Kalau dimandiin, rambutnya dicuci…… busyet si Wim, panik setengah mati. Apalagi kalau potong kuku. Aneh ya, si Entong juga gitu. Kalau mandiin kepalanya ngamuk, tapi doyan main air sampai berjam-jam. Saya jadi ingat penjaga Fakultas dimana saya sekolah dulu. Kemungkinan besar dia autis yang mempunyai fotografis memori. Kalau diajak ngomong matanya seperti ngelamun, engga pernah natap memang. Sukanya pakai baju modelnya itu itu aja, yang kantongnya baju atas empat, celana juga empat. Isinya kunci semua ruang. Itu kehebatannya. Dia hapal semua kunci yang jumlahnya beratusan itu. Mulai kunci gudang, WC, kantor, kelas, lemari-lemari, dan kunci dapur. Jadi kalau kelupaan bawa kunci, cuma teriak manggil dia lalu bilang, saya mau masuk ruang anu. Dia ngerogoh kantongnya sebelah mana, lalu keluar sekitar dua puluh limaan renceng dari satu saku. Dia amati, lalu dia buka pintunya. Engga pernah salah. Engga kaya saya, walau satu renceng cuma lima, bolak balik salah aja. Tapi demenannya tidur di dak, di bawah matahari kencar-kencar. Kebiasaannya gitu, sampai kita serem, takut kena solar alergi. Tapi ya gitu aja. Suatu hari saya cari dimana dia, eh lagi tidur di bangku, mending posisi normal. Mukanya menghadap dinding, berlutut di atas bangku, sementara tangannya diangkat, macam maling ditangkap polisi. Kalau di kantor lagi ada pesta keramaian, misalnya pesta mahasiswa lulus gitu, orang repot dia mah hilang entah kemana. Engga ada aja. Dia juga engga bisa becandaan, kalau diajak becanda bingung. Ditanyain suka cewe engga? Dia ngeloyor pergi dengan muka sebel. Nah soal rambut, dia juga engga mau dipotong. Rambutnya gondrong aja sampai panjang, diikat.Kalau disuruh potong, dia juga ngeloyor dengan muka sebel. Sebetulnya sih orangnya cakep banget, matanya besar, hidungnya mancung, bibirnya bagus. Tapi badannya kurus dan kecil,engga seimbang antara besar kepala dan badan. Lagi pula bajunya itu lagi itu lagi, begitu lagi begitu lagi. Tentang bicara, kalau bicaranya filosofis betul, ada ada aja deh, tentang pembagian tugas antara Tuhan dan manusia, tentang kewajiban manusia. Tentang peraturan dunia. Padahal sekolahnya sampai SD saja. Tetapi artikulasi bicaranya, meski baik ada terdengar seperti ditarik-tarik dan sedikit sengau. Dia suka duduk bareng, tapi engga pernah ngobrol cerita-crita ngerumpi, apalagi ngerasanin orang. Cuek. Engga pernah ngeluh, dan engga pernah menyatakan suatu harapan. Cuek.Soal disiplin dia nomor hebat, engga ada tandingannya, pokoknya perfek. Tugasnya ngabsen dosen, maksudnya setiap pagi, dia harus mengeluarkan kartu absen yang harus ditandatangi. Kalau ada dosen lupa, dia tulis: kelupaan. Kalau ada dosen cepet-cepet ngajar lalu engga absen: dia tulis terdengar. Kalau kita kelupaan lalu telat satu menit, padahal dari tadi juga lupa, tapi batas waktu tanda tangan habis, mana boleh sama dia, dia yang harus nulis : datang, lupa tanda tangan. Nah itu kayanya contoh yang khas betul. Dia mempunyai fotografis memori, gangguan sosial, emosi, tapi sangat kaku. Tapi kalau sudah besar gini dan udah tua gini mah, gampang nengerinnya. Nah kalau masih piyik balita,……….. auuu….

Eh, cerita si Wim sampai lupa.
Ternyata terlambat bicaranya si Wim ini engga kebangeten. Umur dua sudah mulai keluar satu kata, yaitu kata lampu yang dia senangi, engga lama, papa, mama, dan seterusnya. Umur tiga dia sudah bisa bicara bagus.
Si Wim juga sekolah, tapi sekolahnya di SLB, mainnya barengan anak yang mempunyai gangguan perkembangan lainnya. Tapi di sekolah ini emosinya maju pesat. Dia bisa bermain dan berkawan. Tapi selama perjalanan hidupnya Wim sampai lima tahun itu, kalau di test selalu jatuh bangun. Kadang dia jadi masuk autis berat, kadang jadi autis sedang, lalu autis berat lagi. Kondisinya ampleng-amplengan. Waktu umur lima ditest, eh dia diluar kategori autis. Perkembangannya sudah baik. Hanya perkembangan sosialnya saja yang ketinggalan bila dibandingkan dengan usianya yang lima tahun, kemampuan sosialnya berada di usia 4,8 tahun. Tetapi emosinya baik. Bicaranya baik. Terfiksasinya atau kekakuannya mulai berkurang banyak. Karenanya dia engga bisa dihitung autis lagi. Walau IQ –nya saat itu masih terhitung 90 tapi kemampuan kognitifnya tinggi gara-gara kebanyakan waarneming. Dia anak fotografis memori.

Waktu saya baca ini di kamar mandi di hotel Golden Tulp Nijmegen, tengah malam. Penasaran pengen cepet selesai. Baca malam-malam di kamar mandi, karena si Entong dan bapaknya tidur, lampunya dimatikan. Tapi habis membaca kisah si Wim, ngedumel sendiri. Lho kok autis bisa sembuh, katanya engaaaaaaaaaaa…………
Rupanya yang saya baca memang buku lama tahun 1988. Dan kisah si Wim memang beberapa tahun sebelumnya. Buku lama Jul, kenapa dibaca ? Gitu komentar suami saya. Ya, beli juga engga sengaja, lagi ke toko buku, liat judulnya tertarik juga, Autisme en Thuis Behandeling (Autis dan Penanganan di Rumah). Pantes aja murah banget., diobral. Dat was helemaal verkeerd……. Helemaal verkeerd….. (Itu dulu bener-bener salah….. bener-bener salah) kata Prof. Mönks mengomentari kasus-kasus macam itu, waktu cerita-cerita tentang berbagai kasus yang salah diagnosa. Tapi kan kasus si Wim itu dulu, waktu orang belum tahu bahwa kelompok anak fotografis memori itu antara yang autis dengan yang gifted, sangat mirip betul. Tapi beberapa membedakannya, misalnya kemampuan bicara si Wim cepat berkembang, dia mempunyai kemampuan motorik yang baik, baik motorik kasar dan halus. Hanya saja si Wim ini karena sejak bayiiiiiii sudah suka melakukan waarneming, maka mbudegnya ya sejak bayi juga, karena hubungan emosi dengan orang di sekitarnya juga kurang sekali. Dan sayangnya perkembangan emosinya terakhir. Hal pokok lain yang sangat membedakannya adalah setiap perkembangannya mempunyai kapasitas besar, dengan waktu yang singkat, dan sayangnya engga sinkron. Terlihat dari hasil testnya yang ampleng-amplengan kadang jadi autis berat, kadang ringan, nanti berat lagi……. Gituuuuu aja. Dan tiba-tiba aja di usia lima berubah sarung, jadi bukan autis.

Susahnya gitu, kenapa Tuhan engga menciptakan program perkembangan anak, tuh modelnya satu aja. Kalau macam-macam gitu kan repot amat…………
Jadinya kalau ada orang autis sembuh, itu mah emang bukan autis, apalagi kalau pinter……. Bukan deh. Biang keroknya si fotografis memori itu. Sebaiknya nih fotografis memori kita gebukin saja, bikin repot orang banyak, kepala jadi puyeng……..Kaya provokator Indonesia bikin puyeng.
Tapi nampaknya dengan pengetahuan yang semakin maju, dan informasi tentang autis yang semakin hebat, orang tua yang punya anak cepet-cepet pengen memeriksakan anaknya kalau ada yang aneh-aneh. Jadi angka autis berkembang pesat hebat. Yang semula cuma 1 : 10.000 sekarang jadi 1: 500 eh malahan bakal jadi 1 : 250 . Kayanya mah engga masuk akal, emangnya terjadi mutasi genetik, bayi yang lahir sekarang jadi pada autis, terus repot nudingin yang engga-engga sebagai biang kerok. Padahal kalinya mah, saat ini jumlah yang melapor ke dokter bahwa kemungkinan anaknya autis, adalah orang tua yang semakin maju dan menerima informasi, cepat tanggap (tanggapnya kecepetan), jadi anak yang dibawa umurnya masih lebih muda-muda. Bahkan banyak yang masih umur satu setengah sudah dibawa. Pada saat itu kelihatannya gejalanya memang kaya autis, padahal dikibulin aja sama tuh anak……… engga taunya dia bukan autis…… diagnosanya salah. Tapi sialnya waktu ternyata waktu usianya di atas lima kenyataannya bukan autis, si emak engga lapor lagi. Maka dalam catatan statistik negara, dia masih tercatat sebagai autis…….. curaaaaaaannnngggg ! Engga aci engga mau ngaku.











Wednesday, September 15, 2004

Terlambat Bicara atau Autisme ?

TERLAMBAT BICARA ATAU AUTISME ?

Pertanyaan ini aku lihat paling banyak ditanyakan oleh para Ibu yang mempunyai anak usia 1,5 tahun, 2 tahun, 2,5 tahun yang belum juga bicara. Kadang ada yang cerita belum banyak bicaranya, tetapi sudah mengerti jika diajak ngbrol. Ketakutan akan bergangguan autisme memang beralasan, karena publikasinya memang begitu mengatakan bahwa: hati-hati jika anak terlambat bicara, kemungkinan autisme.

Berapa banyak autisme? Banyak, begitu menurut publikasi. Berapa jelasnya? Engga tahu, karena angkanya samaunya. Ada yang bilang 1 : 500, ada yang 2: 250, eh ada juga yang bilang 1 : 150. Bayangkan dong kalau 1: 150, apa nanti gak bakal muncul partai kelompok autisme? Kok tinggi banget sih? Kalau tinggi begitu kenapa kok WHO engga membuat seruan serbu autisme, dan semua Negara membuat program pemberantasan ataupun pencegahan autisme. Ya engga, karena menurut banyak orang yang ngubek autisme, konon karena pertama yang salah:
1) tatalaksana sistem diagnosa autisme kurang ketat, seharusnya dilakukan secara multidisiplin, jangka waktu lama, berbulanan, hingga setahun, baru ditegakkan diagnosanya, tapi banyak hanya dengan satu kali kunjungan, tanpa konsultasi kiri kanan, bahkan ada yang cuma liwat mailing list segala, saat seorang Ibu bertanya mengapa anaknya belum bicara, langsung dapat diagnosa.
2) DSM IV atau ICD 10 yang menjadi dasar penegakan diagnosa jadi biang kerok.

Salah satu artikel yang secara terus terang mengkritik kriteria itu ditulis oleh Tine van Schijndel-Jehoel seorang orthopedagog peserta program doktor neuropsikologi klinik dari Universitas Tilburg – Belanda. Artikel itu adalah bagian dari pendidikan doktornya, yang ditampilkan di sebuah majalah autisme ilmiah Wetenschapplijk Tijdschrift Autisme, edisi Agustus 2005, dengan judul artikel: Brein bedriegt: als een autisme spectrum stoornis geen autisme is (Otak yang menipu: jika autisme spectrum disorder ternyata bukan autisme). Ia menjelaskan bahwa:
1) DSM IV adalah kelanjutan dari DSM III, dan ICD 10 adalah kelanjutan dari ICD 9;
2) dalam kriteria itu baik DSM IV maupun ICD 10, yang diambil dari DSM III & ICD 9, adalah prototip sistem klasifikasi bahwa: seorang anak dapat didiagnosa berdasarkan kumpulan gejala tertentu, tanpa harus memenuhi seluruh kriteria yang ada;
3) kumpulan gejala itu tak ada penjelasan latar belakang penyebab dan mengapa gejala itu bisa terjadi;
4) kriteria itu tidak pernah melalui upaya-upaya berbagai penelitian guna mendukung akurasi kriteria;
5) ketiga faktor yang menjadi dasar diagnosa (gangguan interaksi sosial, gangguan komunikasi, dan perilaku repetitif dan stereotipik) tidak diberi definisi secara jelas.


Akibat dari kriteria yang digunakan itulah yang pada akhirnya menjadi penyebab banyaknya anak-anak dengan bermacam-macam pola gejala mendapatkan diagnosa yang sama, yaitu autisme, yang dengan catatan sebetulnya sangat beragam (heterogen). Dengan alasan heterogenitas dan kesulitan menentukan letak setiap anak yang menerima diagnosa itu dalam sebuah spektrum yang panjang, akhirnya digunakanlah istilah Autism Spectrum Disorder (ASD). Menurut Shijndel-Jehoel lagi bahwa para ilmuwan saat melakukan penelitian seringkali juga menjadikan Autism Spectrum Disorder (ASD) sebagai satu objek grup penelitian yang dianggap homogen. Artinya semua ini menurutnya bahwa perkembangan kognitif neuropsikologi anak didiagnosa melalui kumpulan gejala tanpa memperhatikan lagi perbedaan etiologi (penyebab) dari setiap kelompok dalam spektrum tersebut. Dalam menangkap tanda-tanda gangguan autisme ini, gejala perilakulah yang menjadi sasaran, maka berbagai gejala perilaku akan terjebak masuk ke dalam term perilaku menyimpang, tanpa memperhatikan lagi apakah seorang anak mempunyai performa atau kinerja yang baik, mempunyai potensi, mempunyai prinsip yang kuat, dan dapat menunjukkan perilaku sosial yang adaptif, yang ke semuanya itu bisa saja nampak dalam situasi di rumah.

Ada satu tulisan dari seorang psikiater yang juga neurolog anak yang aktif dalam masalah gangguan perkembangan bahasa dan bicara di Belanda, ia selain bekerja di rumah sakit Vrij Universiteit Amsterdam, juga di institusi anak-anak yang mengalami gangguan bahasa dan bicara terutama yang mengalami dysphasia, ia adalah Dr. Charles Njiokiktjien. Dalam sebuah artikelnya di majalah ilmiah autisme Belanda, Wetenschapplijk Tijdschrift Autisme, no 2, edisi Agustus 2005, berjudul De relatie tussen taalontwikkelings-stoornissen en autisme (Hubungan antara gangguan perkembangan bahasa dan autisme), menjelaskan bahwa masalah perilaku autisme yang disertai gangguan berbahasa, seharusnyalah dibedakan dengan masalah perilaku anak yang disertai gangguan berbahasa tetapi bukan autisme. Maksudnya harus pula ditegakkan adanya differential diagnosis ( diagnosa pembanding) antara gangguan perkembangan autisme, dengan anak tanpa autisme yang sama-sama mengalami gangguan perkembangan bahasa dan bicara. Namun untuk membedakan ini, kesulitannya adalah dalam berbagai literatur autisme, perbedaan gangguan perkembangan berbahasa itu tidak dibahas terutama yang menyangkut definisi dan bagaimana perbedaannya, dengan cara menggunakan patokan berdasarkan gejala-gejala yang ada.

Dalam artikel itu Njiokiktjien menjelaskan tentang bagaimana perbedaan gangguan perkembangan bicara anak autisme dan non autisme, berdasarkan gejala-gejala berbahasa dan bicara yang ditampilkannya. Ia menjelaskan tentang dua kelompok anak yang mengalami gangguan perkembangan bahasa dan bicara. Salah satu kelompok disebut sebagai anak yang mengalami dysphasia. Pada anak-anak dysphasia ini terjadi gangguan adanya perbedaan kemampuan dalam bentuk kemampuan reseptif (penerimaan) dan ekspresif (penyampaian) bicara, dimana pada dysphasia kemampuan reseptif lebih baik daripada kemampuan ekspresifnya. Dan dari tes IQ terdapat perbedaan atau deskrepansi antara IQ verbal dan IQ performal dimana IQ performal lebih tinggi daripada IQ verbal. Anak-anak dysphasia ini dikelompokkan sebagai anak yang mengalami gangguan perkembangan bahasa dan bicara (developmental language disorder). Anak-anak ini juga mengalami gangguan kelancaran bicara karena mengalami gangguan pada pemanggilan kembali kata-kata dari daftar memorinya (words recall), gangguan penggunaan gramatika (syntax), dan gangguan ekspresi terhadap komando atau perintah (misalnya menjawab pertanyaan terbuka, atau menerima perintah), serta gangguan bicara spontan. Artikulasinya juga jelek. Sekalipun anak-anak ini bukan anak autisme, namun ia juga mengalami gangguan sosial, dan menarik diri (introvert). Anak-anak inilah yang kelak akan berkembang baik (mempunyai prognosis baik) dan kelak pada akhirnya ia akan tidak mempunyai gejala dysphasia lagi saat kemampuan ekspresifnya sudah membaik. Menurut Njiokiktjien lagi, bahwa keadaan yang seperti ini kelaknya tidak pernah diikuti dengan gangguan perkembangan autisme.

Sedang kelompok lain, adalah kelompok anak-anak yang mempunyai gangguan dimana dalam tes kemampuan berbahasa, ia tidak mempunyai deskrepansi atau perbedaan skor antara kemampuan reseptif dan ekspresif, bahkan bisa terjadi kemampuan reseptifnya berada di bawah kemampuan rata-rata anak seusianya. Anak-anak ini juga mempunyai kesulitan dalam berbahasa non-verbal (bahasa simbolik dan bahasa mimik). Keadaan seperti inilah yang selalu menyertai anak-anak autisme, atau anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental. Anak-anak ini secara primer mengalami gangguan pengertian bahasa yang akhirnya juga akan mengalami gangguan penggunaan bahasa, karena itu dinamakan juga sematic-fragmatic language syndrome. Sedang pada anak-anak mental retarded atau keterbelakangan mental, sekalipun mengalami gangguan reseptif dan ekspresif, ia masih mempunyai emosi yang baik. Berbeda dengan anak autisme yang mengalami gangguan perkembangan emosi. Emosi disini maksudnya bukan dalam bentuk emosional tidak terkendali seperti mengamuk, tetapi ia tidak mampu membangun hubungan kehangatan emosi timbal balik.

Di bawah ini kucuplik pembagian gangguan berbicara dan bahasa pada anak-anak yang kuambil dari artikel yang ditulis oleh Njiokiktjien. Sebetulnya Njiokiktjien sendiri mengambil pembagian itu dari pembagian yang dibuat oleh Rapin (1988) yang terkenal membicarakan masalah komunikasi pada penyandang autisme.


Klasifikasi communication and language disorder pada anak

A. Developmental language disorders (ganguan perkembangan berbahasa)
1. Hanya mengalami gangguan ekspresif dengan pemahaman normal dengan sedikit atau tanpa komorbiditas - gangguan lain yang menyertainya (pure dysphasia development atau expressive language disorder menurut DSM IV)
Gangguan campuran antara perkembangan bahasa ekspresif dan reseptif (mixed receptive-expressive language disorder DSM IV). Seringkali terjadi adanya deskrepansi (perbedaan) yang bermakna antara skor tes verbal IQ dengan performal (non-verbal) IQ, dimana skor verbal IQ mencapai skor yang sangat rendah. Atau non-verbal IQ mencapai skor lebih tinggi daripada tes pemahaman bahasa. Pemahaman bahasa lebih rendah daripada rata-rata anak seusianya, artinya ada gangguan perkembangan bahasa reseptif (receptive dysphasia).
1 dan 2 di atas dapat terjadi pada anak yang mengalami gangguan perkembangan bahasa dan bicara.

B. Gangguan bahasa reseptif: diluar definisi dysphasia development, karena pemahaman bahasa lebih jelek daripada bahasa ekspresif.
1. Kemampuan reseptif dan ekspresif sangat rendah (delay atau tertinggal); seringkali diikuti dengan gangguan nonverbal (mengalami juga keterbelakangan mental). Dalam bentuk yang parah didapatkan asymbolic mental retardation atau “mute autistic”. Pemahaman bahasa dan bicara sama sekali tak nampak.
2. Verbal-auditory agnosia atau congenital word deafness (bentuk ringan dari phonologic perception problem)
3. Cortical deafness, total auditory agnosia (congenital auditory imperception).
4. Gangguan sensorik pendengaran yang parah.

C. Gangguan semantik-pragmatik
Gangguan bahasa Semantik (pengertian) – pragmatik (penggunaan) sering dimulai dengan bahasa dengan echolalia yang banyak.

D. Gangguan kelancaran bicara, atau gagap.
E. Mutisme selektif (tidak mau bicara dalam situasi atau tempat tertentu)
F. Miskin bahasa karena kurang stimulasi
G. Gangguan artikulasi dan gangguan perkembangan bahasa dan bicara, sering disebabkan karena masalah seperti dalam pembangian 1 & 2

Gangguan perkembangan bicara dan bahasa karena sebab-sebab lain:
1. Child-afasia (disebabkan karena traumatic, tumor, infeksi)
2. Landau-Kleffner-syndrom (gejala mirip pada pembangian B)
3. Kemunduran perkembangan bahasa dan bicara dengan penyebab tak diketahui dengan atau tanpa epilepsi saat tidur dan gangguan nosologi yang tak diketahui penyebabnya, sering juga terjadi pada Autisme Spectrum Disorder (ASD).
Sumber: C.Njiokiktjen (psikiater & neurolog anak) dalam artikel: De Relatie tussen taalontwikkelings-stoornissen en autisme, Wettenschaplijk Tijdschrift Autisme, nummer 2, augustus 2005.


Dalam berbagai artikel mengenai autisme, banyak dijelaskan bahwa gangguan berbahasa dan bicara pada autisme mempunyai gradasi dari yang terparah, tidak bisa bicara, hingga yang bisa berbicara dengan baik. Hal ini juga tergantung dari perkembangan kognitif si penyandang. Mulai dari yang inteligensia rendah hingga yang tinggi. Pada autism spectrum disorder, Njiokiktjien menjelaskan bahwa baik kelompok autisme infantil yang berinteligensia rendah hingga yang mempunyai fungsi yang tinggi (high function autism atau HFA), semua mengalami gangguan reseptif sekaligus juga ekspresif. Saat mereka masih balita ditemukan kondisi yang dysfatis (tidak bicara) dan keterlambatan bicara. Namun kelompok lain, yaitu kelompok autisme Asperger, tidak mengalami keterlambatan bicara, jadwal perkembangan bicara normal. Walau begitu ia mengalami gangguan berbahasa, yaitu gangguan semantik dan pragmatik. Karena itu kelompok asperger ini mengalami apa yang disebut gangguan komunikasi sosial.