Si Entong

Monday, August 30, 2004

MEMORI FOTOGRAFIS 1

SULIT MENCARI BACAANNYA


Sudah lama blog ini engga kuisi, padahal janjiku pada banyak teman untuk bercerita tentang memori fotografis. Janjiku ini juga sudah lamaaa sekali. Sorry yak!

Memori fotografis, kata-kata ini kukenal sekitar enam tahun lalu, dari Pim van der Pol orthopedagog dari Universitas Leiden. Pim mengatakan bahwa gambar-gambar si Entong merupakan gambaran yang fotografis. Dalam berbagai kesempatan selanjutnya ia selalu mengingatkanku akan hal ini. Karena seseorang yang mempunyai memori fotografis adalah seseorang yang mempunyai kekhususan dalam perkembangan kognitifnya, yang bisa jadi akan menyulitkan perkembangan lainnya.

Awalnya aku tak mengerti apa itu memori fotografis, dan engga mudheng maksudnya, terutama kata-katanya: hati-hati ya, artinya ia sangat dipengaruhi oleh long term memory. Weh…. Apa itu long term memory? Lagipula dipesani harus hati-hati… lhah kok serem amat? Jadi saat itu aku cuma bisa ndomblong melompong nyaris ngemplok laler andong, persis kayak kambing begok. (Ada engga sih kambing yang begok? Pasti engga pernah ada yang tahu karena engga pernah ada psikolog perkembangan yang mengukur kebegokan seekor kambing kayak apa. Lagian kalau ada psikolog yang ngukur-ngukur kebegokan seekor kambing, engga ada kerjaan aja kayak orang gemblung. Sedang yang biasa kudengar adalah kambing congek, padahal selama kuliah engga ada tuh pelajaran bahwa ada kambing bisa congekan, yang banyak juga anak-anak congekan karena pilek kronis sampai infeksi di telinga bagian tengah, ambhune itu lho…khas!).

Lamaaa kucari-cari literature yang membicarakan memori fotografis ini. Baik di perpustakaan-perpustakaan maupun di toko-toko buku, apalagi surfing internet jangan tanya banyak kalinya. Bahkan suatu kali sengaja kutongkrongi perpustakaan Universitas Nijmegen yang penuh dengan buku-buku psikologi seharian penuh, mencari barang yang satu itu, sampai puyeng gak ketemu juga, apalagi bukunya kuandel kuandel banget setebel bantal..
Sebetulnya jika ngorek ngorek di internet, membacanya jadi geli sendiri. Pertama yang keluar bakalan tentang digital kamera yang punya memori bagus. Sialan gak? Yang kedua pengertian-pengertian umum tentang memori fotografis itu.
Ada yang bercerita, katanya dia mempunyai memori fotografis, yaitu kalau dia akan ujian dia engga perlu belajar, cukup melihat buku halaman perhalaman. Waktu dia ujian, dia hanya me-recall apa yang pernah dilihatnya dan kemudian mengambil kata perkata yang terbayang di kepalanya. Nah kalau cerita ini pasti kujamin aku engga akan mempercayainya, biar rambutku dijambak juga ogud ogah banget deh buat percaya.

Ada juga yang aje gile mek! Memori fotografis bisa dibuat, katanya!
Bahkan ada magazine nya segala, ada perlengkapannya segala. Sejak bayi pula. Gini katanya:

The Image Brain and
Photographic Memory
by Clare Parker
Information for this article is taken from the book "Babies Are Geniuses" by Dr. Makoto Shichida, world renowned founder of over 350 Preschool Child Academies in Japan.
Another name for the right hemisphere of the brain is the image brain. According to Dr. Makoto Shichida of Japan, it is this part of the brain by which we 'see' when we are imagining or dreaming. Furthermore, the right brain can create mental images from information gotten from the cells of the body which is the basis for extra sensory perception.
Having a photographic memory allows immediate access to information stored in the memory. The person with a photographic memory can recall any information from any book he has read or page he has seen. Each page can be viewed on the screen of his mind as if it were a snapshot.
Because the right and left brain hemispheres function as opposites they also compliment each other. The left brain is conscious and logical, takes in information slowly and likes repetition. The right brain is subconscious and intuitive, takes in information quickly and wants no repetition.
Presenting information slowly and repetitively exercises the left brain, while flashing information to a child quickly stimulates the right brain.
By age six the left brain is dominant, but before age six there is a window of opportunity where the right brain is dominant. Shichida says that presenting large amounts of information at a fast pace to infants, toddlers and preschoolers stimulates the right brain and can activate photographic memory.
Research shows that young children benefit from being shown flashcards such as phonograms, word cards and math cards if sessions are happy, relaxed and brief, and cards are presented quickly. Material can always be new and interesting with different pictures, words, facts or problems.
If you want your baby to develop a photographic memory, speed reading ability, learn multiple languages and have computer-like calculating ability, try flashing phonograms, language cards and math dots flashcards!
http://www.internationalparentingassociation.org/
Learning/photomem.html


Kalau membaca secuil promo di atas pasti orang bakal percaya, karena dibumbui kata-kata “riset”, yang nulis orang bule pula. Apalagi kalau ada yang sampai fanatik percaya banget, bayinya yang baru lahir bukannya diajak main cilubakekok, tapi diganti disuruh melototi flash card setiap hari. Dengan maksud babynya bisa jadi superbaby, alias menjadi bayi jenius. Di ujung kaki di dinding boks-nya digantung flash card itu dan diganti setiap hari. Harapannya waktu bayi itu mulai ngomong langsung dia mulai baca dan berhitung pinter matematika.
Kadang di milis juga aku baca, ada yang ngaku bahwa dia melakukan riset pada anaknya, dengan cara memberinya flash card, lalu waktu anak itu berumur tiga tahun, dia bisa membaca dan berhitung sendiri. Katanya berkat flash card itu. Nah kalau modelnya begitu namanya bukan riset tapi testemoni. Kalau riset mah ada peraturannya, meotodologinya, dan langkah-langkah yang harus ditempuh. Agar hasil risetnya kalau diulang lagi oleh orang lain akan menghasilkan yang sama. Artinya bahwa suatu hasil riset itu haruslah dapat direplikasi. Kalau engga bisa ya gak usah dipercaya. Lagipula jika riset dilakukan pada bayi dan balita ya harus memenuhi bioetika dan harus berada di bawah dewan pengawas biotetika.

Bagaimana orang engga tergiur ya gak, kalau bayinya jika menggunakan flashing phonograms, language cards dan math dots flashcards ia akan bisa menjadi pembaca kilat, mampu berhitung macam kalkulator, mampu berbahasa sagudang. Wah…. Menggiurkan beh! Hmh…hmh.
Tapi aku puyeng juga neh jadinya, sebab kalau membaca buku Neurologische aspecten van ontwikkelingsproblemen bij kinderen (Aspek neurologis masalah perkembangan pada anak) yang ditulis oleh tiga zeergeleerde alias profesor ahli neurologi dari Universitas Amsterdam dan Nijmegen ( Prof. Dr AP Aldenkamp, Prof Dr WO Renier & Prof Dr LME Smit) sama sekali engga nyolekin perkara bayi diberi flash card untuk merangsang perkembangan otak kiri dan otak kanan supaya menjadi hebring superbaby. Dalam berbagai buku neurologi lainnya juga gak ditemukan. Ternyata memang ilmu membuat superbaby itu memang tidak didukung oleh ilmu neurologi yang kerjanya memang ngurusin otak. Jadi ngapain kuubek terus bacaan macam flashcard itu? Lha memang psedoscience kok, alias pseudoilmiah atau ilmiah ilmiahan.

Lama saya engga menemukan bacaan tentang memori fotografis yang saintifik. Eh engga tahunya istilah yang biasa digunakan dalam ilmu psikologi adalah VISUAL IMAGERY, kadang digunakan istilah EIDETIC IMAGERY. Aih… kenapa engga dari dulu gitu istilah ini kutemukan. Sehingga hari-hari pertama 6 tahun lalu waktu diberi tahu ada kata berbunyi memori fotografis langsung saja kulahap bacaan-bacaannya. Ini tersendat dahulu pakai masuk dulu ke dalam pengertian-pengertian yang menjadi bagian dari memori fotografis, yaitu VISUAL LEARNER yang dalam bahasa Belanda digunakan istilah DE BEELDDENKERS.

Beelddenken atau berfikir secara visual lebih populer ketimbang memori fotografis, bahkan seringkali dalam bacaan beelddenken sering tidak disinggung pula tentang memori fotografis, padahal memori fotografis itu ya menggunakan beelddenken. Artinya ada orang yang beelddenkers (pemikir visual atau visual learner) itu mempunyai juga kemampuan memori fotografis (eiditic imagery), namun tidak semua orang yang beelddenker (visual learner) mempunyai memori fotografis. Visual learner ini juga mempunyai beragam kwalitas. Dengan begitu visual learner mempunyai spektrum mulai dari yang non-memori fotografis hingga yang mempunyai memori fotografis.

Tapi begitu langkanya orang yang menyandang memori fotografis ini sampai banyak juga yang mengatakan bahwa memori fotografis itu hanya mitos, ia tidak ada. Karenanya sangatlah jarang buku yang membicarakan tentang memori fotografis, karena kasusnya memang sulit dicari. Tetapi akhir-akhir ini ada juga beberapa dikemukakan, dengan kasus pada anak-anak autis, bukan pada anak jenius. Lho kenapa kok pada anak autis bukan pada anak jenius? Padahal banyak publikasi komersial mengajak menjadikan anaknya sebagai superbaby hebring jenius dengan cara membangun memori fotografis di dalam batok kepalanya yang bernama otak.

Nanti saya ceritakan apa sebabnya, puanjeng euii…!

Mendingan saya dongengin dulu tentang visual learner ya, biar gampangan.

Umumnya cara belajar anak anak balita adalah secara visual, kelak saat ia sudah baik bicaranya maka ia akan belajar menggunakan informasi melalui telinga (secara auditif). Informasi yang masuk melalui telinga berupa bunyian yang tersusun secara berurutan ini akan ditangkap oleh otak dan segera diproses lalu akan diluncurkan jawabannya melalui mulut dalam bentuk bunyian lagi yang beruntun, atau sekuensial
Nah berfikir secara visual engga begitu prosesnya.
Caranya saat mata melihat objek di depan matanya, maka in eens tegelijk alias secara simultan semua objek diterima oleh mata dan akan menyangkut di dalam otak sebagai memori berupa gambaran atau imagery.
Maka bedanya jika bunyian masuk ke dalam telinga, informasi yang diterima akan beruntut-runtut (bacanya jangan ber-utut-utut, tapi beruntut-runtut ya) sedang informasi yang diterima oleh mata berupa gambaran yang utuh secara simultan. Karena itu orang-orang yang visual learner ini juga cara berfikirnya secara simultan. Cara berfikir simultan ini ada bagusnya tetapi juga ada berengsek dan reseknya. Cara berfikir seperti ini menurut banyak kalangan pedagogi di Belanda yang pada rajin nulis buku seperti misalnya Prof Roel de Groot yang sedang debat teoritis dengan orang Amerika, katanya berjumlah sampai 25 persen, diantaranya yang 2 persen mempunyai memori fotografis. Waktu ada kongres Beelddenken bulan Oktober di Nijmegen th 2004, seorang pembicara dalam sesi tentang terapi, bercerita bahwa banyak kliennya gara-gara ia mempunyai cara berfikir yang berbeda (karena visual learnernya itu), seringkali jadi konflik dengan teman sekantornya. Apalagi jika ia adalah seorang atasan yang merupakan satu diantara 2 persen itu. Selain ia dianggap macam orang sinting oleh bawahannya, ia juga suka pusing sendiri terhadap cara berfikir orang lain, kenapa kok begitu ya, gak ngerti maksudnya, begitulah grundelan mereka pada umumnya. Nah orang-orang ini mendapatkan terapinya. Terapinya bukan menggunakan obat-obatan supaya hati cemas dan frustrasinya terobati, tetapi diminta mengenal diri sendiri dan bagaimana cara mengenal beragam cara berfikir manusia.
Hmh…. Pantas saja yang milih sesi ceramah tentang terapi ini banyak banget, rupanya yang ikut adalah visual learner semua yang mengherani dirinya sendiri sebagai orang yang berbeda dari khalayak ramai sampai banyak yang berfikir, sebetulnya yang sinting dia apa orang lain.

(Januari 2005)








0 Comments:

Post a Comment

<< Home