Si Entong

Saturday, August 28, 2004

MEMORI FOTOGRAFIS 3


BOTSEN TEGEN ELKAAR
Originally uploaded by segaintil.


TERHALANG KREATIVITAS GIFTEDNESS

Dalam banyak literature anak berbakat, yang dibicarakan melulu soal kreativitas, bukan memori fotografis. Laporan dari para peneliti memori, misalnya dari Universitas van Amsterdam yang tengah sibuk melakukan penelitian akan hal ini, mengatakan bahwa, sampai saat ini masih sangat sedikit sekali penelitian yang menjelaskan apa dan bagaimana kerja otak terutama dalam kemampuan memori fotografis. Apalagi pada kelompok manusia gifted. Sebab, setidaknya menurutku, kedua hal, antara memori fotografis dan kreativitas akan justru bertabrakan. Karena memori fotografis justru menghasilkan produk yang perfek, dengan detil yang persis dengan apa yang dilihatnya. Sedang kreativitas adalah pengembangan fantasi dan imajinasi, produknya justru seringkali tidak ada dalam realita, atau pengembangan pemikiran informasi yang didapatnya. Misalnya dalam kegiatan menggambar, anak dengan kreatifitas yang tinggi akan menghasilkan gambar-gambar bukan realita, tetapi hasil imajinasi yang penuh fantasi. Pada autisme yang ternyata deficit dalam fantasi dan imajinasi, justru mereka akan mampu melahirkan gambar-gambar yang sangat realis (Peter Vermuelen menyebutnya Visual Realisme), dan sangat perfek. Inilah juga yang menyebabkan orthopedagog yang memeriksa anakku berani mengatakan bahwa anakku itu bukan autisme, padahal ia baru 3 tahun saja, karena diantara gambar-gambar yang perfeksionis itu ada gambar yang juga merupakan gambar fantasi, yaitu gambar seorang kepala anak pakai kaki tanpa perut tanpa tangan. Dalam bahasa Belanda gambar seperti ini disebut koppoter (kepala dan kaki). Gambar ini merupakan gambar ketiga yang dibuatnya setelah menggambar wajah bapaknya, menggambar wajah sobatnya si Camilla gadis kecil tetangga. Gambar ketiga ini dia beri judul: kindje (anak kecil). Tetapi anak kecil itu siapa, tidak tahu.

Gambar ini dibuat saat Entong berusia 6,5 tahun. Bentuk memori fotografis masih nampak, tetapi gambar ini bukanlah visual realisme, tetapi suatu imajinasi dan fantasi yang menjelaskan pemikirannya bahwa semua orang bisa meninggal dunia, besar kecil, tua muda, binatang, maupun pepohonan. Ia ambilkan contoh dalam tabrakan beruntun yang ia beri judul botsen tegen elkaar.


Supaya kita tidak bingung terhadap pengertian apa itu kreatif, di bawah ini saya tempelkan pengertian kreatif menurut seorang pendidik anak berbakat F de Hoop.
Agaknya dalam mengasuh anak berbakat, kita juga harus mampu melihat anak-anak kita mengaktualisasikan kreativitasnya, sebab tanpa adanya batasan pengertian kita seringkali terjerembab pada harapan-harapan yang dilontarkan dari berbagai informasi bagaimana menjadikan anak kita anak berbakat dan kreatif. Saya pernah melihat sebuah lembaga yang katanya menjadikan anak-anak asuhan disana menjadi anak berbakat dengan cara mengajarinya bermain musik, menggambar, berkreasi. Maka anak-anak yang sudah pandai bermain piano itu disebutnya sebagai anak berbakat. Atau anak-anak yang bisa menggambar itu disebutnya anak berbakat. Namun apa yang dimaksud sebagai anak berbakat (gifted) yang memiliki kreativitas baik sebetulnya bukan begitu. Jika ia bisa bermain piano dengan baik, belum tentu anak tersebut anak berbakat (gifted). Sebab kreativitas adalah pengembangan fantasi, imajinasi, dan intelektualitas, artinya seorang anak yang berbakat musik ia mampu menggubah juga berbagai lagu-lagu, bukan sekedar belajar sampai bisa dan sampai baik.


Menurut de Hoop (De Hoop, F & Janson, D J (1999): Omgaan met (hoog)begaafde kinderen, Uitgevruj Intro, Baarn).

Pengertian kreatif bukan berarti bahwa anak ini kreatif dengan misalnya “creatieve met kurk” (kiasan untuk mengatakan bahwa kreatif yang sembarangan). Tentu saja ada berbagai bidang dari seni yang dapat diartikan sebagai kreatif, misalnya seni ukir, drama, tari, sastra, musik, dan seni audio-visual. Mampu menberi warna gambar yang rapih, mampu membuat renda dan bisa menyanyi bagus belum tentu secara langsung merupakan sinyal dari kreatif.
Bila kita berbicara soal kreatif adalah dalam konteks kemampuan yang orisinal, interpretasi yang orisinal, atau solusinya yang orisinal guna menciptakan sesuatu yang bernuansa seni, maka kreatifitas dapat dikatakan sebagai berikut:
dalam membuat gambar/lukisan di mana anak itu mempunyai cara sendiri dalam menuangkan imajinasinya dalam bentuk yang dapat kita lihat dengan mata misalnya berupa lukisan/gambar
dalam mewujudkan imajinasi bentuk tiga dimensi antara bentuk dan maksud dari model, ia tampilkan dengan caranya sendiri dalam menampilkan nuansa musik, ia melakukan interpretasi sendiri yang kemudian lebih disempurnakan dengan musik yang sudah ada dalam menjalankan peran dalam suatu kegiatan teater, ia mampu menjiwai peran itu sehingga mampu menunjukkan apa yang tengah diperankan itu menjadi hal yang seolah benar-benar nyata dan hidup dalam penggunaan alat-alat video-visual ia mempunyai kemampuan yang sangat prima dengan caranya yang unik dalam mewujudkan apa yang dimaksudkan dalam suatu kegiatan seni sastra ia penuh dengan emosi dalam mewujudkan apa yang difikir dan dirasakan itu

Walau begitu, kreativitas berarti tidak hanya berkaitan dengan seni, yang terpenting adalah bagaimana memecahkan suatu problem dengan caranya sendiri serta mencari tahu sendiri problem apa yang tengah terjadi hingga muncullah suatu kreativitas .


Dalam aspek kreatif ini, fleksibilitas memainkan peranan yang sangat penting, berupa hadirnya situasi baru, misalnya adanya kejutan temuan baru, atau kejutan kesalahan, pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada perkayaan pencarian temuan-temuan baru. Hal di atas justru menantang mereka untuk terus secara mandiri dan dengan kekuatannya sendiri, mencari kemungkinan-kemungkinan baru, dan ini semua merupakan tanda-tanda dari suatu kreativitas yang disandang oleh seorang anak berbakat. Namun dalam mewujudkan kreativitas ini, seorang berbakat juga selalu menggunakan intuisinya yang sangat tajam. Dalam kenyataannya bisa saja terjadi sesuatu hal diwujudkannya secara tiba-tiba (dengan suatu kejutan) berdasarkan intuisi yang berkaitan erat dalam proses kemampuan kreativitas yang dimilikinya.


1 Comments:

Blogger PuTRi said...

aku sangat suka buku 'anakku terlambat bicara" buku itu memberikan motivasi tersendiri bagiku. menurutku seorang awanita itu harus cerdas dan tau perkembangan anak. karena masa depan anak tergantung pada didikan orangtua, sedangkan orang tua yang sering bersama anak adalkah ibu-ibu.
tapi yang aku bingungpertama kali membaca posting ini adalah: di dalam buku anak si julia itu anaknya johan, bukan si entong.
hehehehe

5:41 AM  

Post a Comment

<< Home