Si Entong

Sunday, August 29, 2004

MEMORI FOTOGRAFIS2

Sebagai visual realisme

Seorang Doktor dalam bidang orthopedagogi berkebangsaan Belgia yang bekerja dalam Dinas Austisme di Leuvan – Belgia, telah banyak mengungkapkan dari dekat berbagai karakteristik autisme anak-anak bimbingannya. Ia banyak sekali menulis buku tentang autisme, terutama autisme yang mempunyai IQ tinggi, yaitu kelompok Asperger, dan kelompok autisme ber-IQ normal yaitu kelompok autisme high function. Buku-bukunya yang dalam bahasa Belanda-Belgia itu sangat menarik sekali, mudah dimengerti dan sarat dengan penggambaran praktis. Ia juga membuat disertasi untuk menyelesaikan pendidikan doktornya di Universitas Leiden, Negeri Belanda. Bukunya yang bagi saya menarik antara lain buku yang ditulisnya bersama Christoph Fink di tahun 2003 berjudul Dialogica banyak membicarakan karakterristik kelompok autisme dalam hal kreativitasnya yang defisit yang menyebabkan ia hanya mampu memakna berbagai peristiwa dan kata-kata secara harafiah, perfek, dan mengalami kesulitan dalam melakukan pemahaman bahasa simbol, serta pengebangan kemampuan analisis.

Dalam buku lain berjudul autisme als niet op autisme lijk (autisme jika tak seperti autisme) yang mengungkapkan tentang berbagai karakteristik autisme asperger yang mempunyai IQ tinggi, ia menjelaskan bahwa sekalipun kelompok ini mempunyai IQ yang tinggi namun karena ia mengalami defisit dalam kreativitas, akibatnya adalah sifat pengembangan pengetahuannya yang baik itu merupakan pengetahuan yang sifatnya lebih banyak meregistrasi ketimbang kemampuan analisis yang biasa dimiliki oleh anak-anak gifted. Disinilah hal yang membedakan antara autisme dan gifted. Karena itu sekalipun kedua kelompok ini (antara autisme asperger dan gifted), meski sama sama mempunyai IQ yang tinggi, dan sama sama mempunyai karakteristik perfeksionist, namun adanya karakteristik kreativitas pada anak-anak gifted, menyebabkan anak-anak gifted mempunyai bidang interes yang luas sementara autisme lebih terfokus atau terfiksasi pada satu bidang minatan.

Disinilah kunci yang dikemukakan oleh Peter Vermuelen dalam buku Dialogica tersebut, yaitu unsur kreativitas yang defisit (kurang) dari individu autisme akan membawanya pada berbagai konsekwensi tadi. Dalam buku Dialogica itu ia juga mengupas akan unsur seni yang ditampilkan oleh individu autisme yang dikatakan lebih mirip pada program komputer yang teratur dan perfek. Sedang berbagai pelukis yang sering dipandang sebagai kelompok autisme seperti Leonardo Da Vinci, Salvador Dali, dan Picasso, menurutnya adalah pandangan yang keliru, karena individu autisme mempunyai kemampuan fantasi dan imajinasi yang defisit.

Di bawah ini sengaja saya cuplikkan tulisannya yang bisa menjelaskan peranan fotografis memori tersebut.

VISUAL REALISME: AUTISME DAN MATA YANG INOSENS

Diambil dari sebagian tulisan Peter Vermuelen & Christoph Fink, dalam buku Dialogica, Uitgevrij EPO, 2003, hal 64 – 67.

Akibat disordernya, para penyandang autis melakukan fantasi yang sangat khusus. Sebagaimana juga seperti apa yang dikatakan oleh Beate Hermelin, umumnya mereka melakukan fantasi dengan bentuk yang sangat mirip dengan apa yang dilihat melalui matanya yang inosens
. Sekalipun kondisi disordernya itu sangat parah, yang membawanya dalam fungsi di kehidupannya sehari-hari menjadi terganggu, ia juga mempunyai sisi yang positif. Pada orang-orang tanpa autisme, dalam menggambar tidak akan sebaik dan seistimewa sebagaimana para penyandang autisme. Kekurangan dalam hal fantasi pada penyandang autisme, justru akan menguntungkan pada saat ia harus menggambar. Pada penyandang autisme saat ia harus menggambar, imajinasinya tidak dihalangi oleh berbagai makna apa yang tengah dihadapinya. Apa yang dilihatnya akan masuk begitu saja dengan mudah dalam ingatannya dan sangat perfek dengan kenyataan. Mata dari seorang penyandang autisme bisa diibaratkan dengan sebuah fototustel. Clara Park menjelaskan dalam artikelnya tentang putrinya yang autis. ‘Para penyandang autis mengartikan sesuatu secara harafiah baik dalam bahasa maupun juga dalam melihat : mata Jessy bagai suatu kamera. Ia melihat dengan matanya tanpa ada pertanyaan apapun, ia hanya mencatat.’ Pada usianya yang ke delapan, Jessy sudah bisa menggambar secara persfekstif, yang pada anak-anak tanpa autisme merupakan hal yang sangat istimewa. Pada anak-anak dengan autisme sering terjadi dimana di usianya yang masih dini ia sudah bisa menggambar secara perfektif. Dan hal itu merupakan sesuatu yang sangat mengagumkan, seperti yang dilakukan oleh pelukis-pelukis Eropa di era renaisans. Karena seorang anak autisme tidak dihalangi oleh makna apa yang tengah dilihatnya, dengan begitu ia juga menggambar tetapi tak tahu apa makna yang digambarnya. Dengan begitu persfektif akan hadir dengan sendirinya, tanpa harus ada ketegangan dalam berfikir.

Pada tahun 1967, di Nothingham, lahirlah seorang gadis bernama Nadia. Dalam waktu singkat secara jelas nampak bahwa Nadia mempunyai keterlambatan perkembangan yang parah. Saat ia berusia tiga tahun, ia sama sekali tidak berbicara, ia juga sangat sedikit bereaksi terhadap orang lain, sementara perkembangan motoriknya tidak lebih bagai anak bayi. Namun Nadia adalah seorang anak yang istimewa. Sekalipun ia mengalami keterbelakangan dalam berbagai hal, ia mampu mengejutkan orang-orang disekitarnya, ia mempunyai talenta menggambar. Lorna Selfe, seorang psikolog Inggris dan juga Howard Gardner seorang yang terkenal dengan teorinya tentang multiple intelligence, mereka bersama-sama mempelajari talenta menggambar dari Nadia. Menurut Gardner, ada beberapa bentuk inteligensia yang saling berkaitan satu sama lain. Gardner sangat tertarik dengan seseorang seperti Nadia ini, yang sekalipun mempunyai gangguan perkembangan yang sangat berat, namun ada keistimewaan perkembangan dalam satu atau lebih domain seperti misalnya menggambar, atau musik (dengan begitu kondisi ini disebut ‘idiot-savant’ syndrom). Menurut Gardner, prestasi luarbiasa para savant ini tidak se eksentrik sebagaimana yang banyak disangka oleh orang. Namun ia memang berbeda dengan orang-orang lainnya yang memiliki kemampuan normal, perbedaan itu lebih disebabkan karena ia lebih terisolasi yang justru ia menjadi lebih menarik. Ia bagai sebuah pulau inteligensia di lautan yang masih terendam di bawah pemukaan air.

Tetapi hal itu sama sekali tidak benar. Talenta menggambar autisme seperti halnya Nadia sangat berbeda dengan talenta yang dimiliki oleh anak-anak lain yang mempunyai bakat luar biasa dan mempunyai lompatan perkembangan. Perkembangan bakat istimewa anak-anak autistik akan berkembangan dengan cara yang berbeda dengan anak-anak normal lainnya. Talenta menggambar Nadia dengan sendirinya nampak dan segera loncat pada stadium yang lanjut. Pada Nadia, merupakan perkembangan yang berkebalikan dengan perkembangan anak-anak tanpa autisme namun mempunyai potensi bawaan talenta yang istimewa, yaitu adanya perkembangan coret-mencoret, perkembangan melalui beragam bentuk yang sederhana, ada gambar ‘kopvoeters’ yaitu boneka kepala dan kaki serta gambar orang dengan kepala dengan kaki dan tangan yang ‘njabrik’, dimana perkembangan itu semua merupakan perkembangan yang runtut. Nadia tidak pernah menggambar seperti anak-anak. Gambar-gambarnya, baik yang pertama sekalipun, langsung sangat detil dan akurat. Nampak bagai talenta anak-anak autisme berkembang berbeda dengan talenta yang biasa, begitu juga selanjutnya. Begitu ia berusia tiga tahun, Nadia langsung menggambar begitu naturalistik, dan tak ada barang satu anak tak autistik yang dapat melakukan hal itu. Para balita umumnya menggambar sesuatu bukan apa yang dilihatnya, tetapi apa yang ia ketahui. Gambar-gambarnya mempunyai tema sebagai presentasi simbol dari apa yang dilihatnya. Orang normal akan memaparkan skema kognitifnya di atas kertas, tetapi bukan dari catatan matanya. Gambar-gambar Nadia seperti juga gambar anak-anak autis yang mempunyai talenta menggambar seperti misalnya Jessy Park dan Stephen Wilthsire, merupakan bentuk visual realisme.

Apa yang diproduksi oleh penyandang autisme yang memiliki talenta menggambar adalah suatu bentuk yang total berbeda dari anak-anak normal yang juga mempunyai talenta menggambar. Hal itu disebabkan karena adanya perbedaan cara pencandraan terhadap berbagai benda yang berada di sekitarnya. Menurut Selfe, Nadia melihat dunia bagai suatu benda-beda yang berjajar runtut bagai garis, bukan merupakan sebuah pengertian yang mempunyai makna tertentu, karena itu ia mampu melihat dunia ini begitu realistis yang kemudian dicurahkannya dalam bentuk gambar. Sekalipun tak mudah untuk melakukan test terhadap Nadia, namun bisa nampak dengan cara melakukan pengamatan terhadap berbagai benda yang dilihatnya dan disajikannya dalam gambar, yang menunjukkan sesuatu yang bukan berdasarkan pemahaman makna tentang apa yang dilihatnya. Sekalipun Nadia mampu menggambarkannya dalam bentuk siluet suatu objek yang dilihatnya secara sempurna tanpa salah, tetapi ia tidak bisa membedakan objek dengan makna yang berbeda, seperti misalnya beda bangku malas dan bangku taman. Pemahaman Nadia terhadap alam adalah pemahaman perseptual bukan konseptual. Menurut Selfe, hal ini merupakan kekosongan dalam kemampuan pemahaman, yang kemudian menyebabkan Nadia mampu mencatat apa yang dilihatnya secara eksak.
Nadia tidak “melihat” kuda-kuda yang selalu digambarnya.

Selfe juga menjelaskan tentang talenta menggambar anak-anak autis: “ Gambarannya tidak begitu kuat “tertular” oleh penggunaan “pengenalan dan penamaan” sebagaimana yang dilakukan oleh anak-anak normal. Jika anak non-autistik ditanya untuk menggambarkan seekor kuda, ia akan “berfikir” tentang seekor kuda (dengan dengan kata lain disebut skema kognitif, atau prototype dari seekor kuda yang keluar dari memorinya) lalu ia akan menggambar apa yang ia fikirkan. Sedang Nadia segera mengingat kembali apa yang pernah ia lihat dan ia akan menggabarnya.

Salah satu bukti dari hipotesa Selfe bahwa talenta menggambar yang dimiliki Nadia berasal dari defisit atau kekurangan dalam pemahaman makna, nampak saat Nadia mulai besar dan saat kemampuan berbahasanya mulai berkembang. Saat mana Nadia di usianya yang ke 8, dimana ia mulai mampu menggunakan pemahaman , dengan begitu ia mulai melakukan “pengenalan dan penamaan”berbagai hal yang dilihatnya, maka intensitas menggambarnya akan berkurang, juga gambarannya berubah menjadi kekanakan. Namun gambaran Nadia tetap istimewa diusianya, sekalipun tidak lagi seistimewa dan menakjubkan sebagaimana yang sudah-sudah. Elisabeth Newson yang selalu bekerja sejak ia berumur tujuh tahun mengatakan, bahwa Nadia mulai mengalami kehilangan karunia Tuhan yang merupakan harga yang harus ia bayar terhadap perkembangan kemampuan berbahasanya

Ditulis April 2005
Bersambung....

0 Comments:

Post a Comment

<< Home